BAB 4
Ilusi Kebahagian Sang Pelukis Jalanan
"Wirabuana sama sekali tidak mau tidur siang, Mas Bim. Dia terus berlarian mencari kotak pensilmu. Anak ini benar-benar tidak kenal lelah," keluh Wanda menyeka bulir keringat di dahinya. Wanita itu bersandar lelah di ambang pintu kamar. Terlihat tangannya mengelus perutnya. Usia kandungannya membesar menanti hari persalinan anak kedua.
Bima tersenyum mendengarnya. Ia meletakkan papan kayu lukisnya sejenak. Pria itu melangkah merengkuh tubuh balita berusia empat tahun tersebut. Wirabuana meronta pelan meminta dilepaskan. Anak kecil itu tumbuh sangat aktif lincah bergerak. Wajahnya mewarisi ketampanan Bima. Sorot matanya setajam burung elang. Rambut ikal tebalnya persis menyalin genetik Bima sewaktu kecil.
"Ayo Wira harus tidur siang sekarang. Ibu butuh cukup istirahat kasihan adik bayi di dalam perut. Ayah berjanji menggambar robot besar nanti sore sehabis Wira bangun," bujuk Bima mengusap lembut kepala putranya.
Wirabuana mengangguk patuh. Balita itu memeluk leher ayahnya erat. Bima membaringkannya perlahan di atas kasur. Mengelusnya sampai mata Wira terpejam damai menjemput mimpi.
❖
Bulan demi bulan bergulir sangat cepat merajut waktu. Kontrakan sempit 4x4 meter di Palmerah itu kembali menjadi saksi bisu kebahagiaan terbesar kedua mereka.
Suara tangis melengking memecah keheningan malam ibu kota. Anak kedua mereka, Bayu Samudra lahir ke dunia. Kehadiran bayi laki-laki bermata bulat jernih itu membawa kedamaian dalam jiwa Bima untuk yang kedua kalinya. Jarak usia berselang empat tahun dari Wira memberikan cukup ruang kasih sayang melimpah bagi keduanya.
Namun kebahagiaan itu sempat menemui badai kecil yang menguji ketegaran Bima dan Wanda. Saat usia Bayu baru saja menginjak enam bulan. Demam tinggi mendadak menyerang tubuh mungil tersebut. Kulit Bayu terasa membakar telapak tangan Bima. Bayi malang itu kejang-kejang hebat di tengah malam buta.
Rumah sakit umum daerah menjadi saksi hancurnya hati seorang ayah. Serangan poliovirus merusak jaringan saraf motorik pada si mungil Bayu. Kelumpuhan permanen merenggut kesempurnaan sang bayi. Dokter mengatakan kelak bayi mungil itu selamanya tak dapat berjalan normal lagi.
Air mata Wanda mengalir deras membasahi pipi. Bima pun tak dapat menyembunyikan kesedihannya. Ia merasa gagal melindungi darah dagingnya sendiri dari serangan penyakit yang membuat buah hatinya cacat permanen.
Wanda memeluk suaminya sangat erat dari belakang. Wanita itu ikut menangis tersedu menelan pil pahit kenyataan takdir yang telah menimpa mereka.
"Sudah Mas Bim.,Berhenti menyalahkan dirimu sendiri. Bagaimanapun Bayu tetap malaikat sempurna bagi kita selamanya. Kita akan merawatnya sepenuh jiwa raga bersama-sama," bisik Wanda menguatkan hati mereka berdua di lorong rumah sakit yang lengang itu.
❖
Waktu terus bergulir. Perlahan-lahan membasuh perihnya luka karena takdir. Roda nasib berputar memihak Bima dan Wanda. Usaha dan finansial mereka melesat menuju arah puncak keemasan.
Tekad Bima membesarkan kedua ksatria kecilnya telah memicu ledakan energi yang luar biasa dahsyat. Ia bekerja tiga kali lipat lebih keras menembus batas kemampuan fisiknya.
Wanda pun menolak berpangku tangan melihat perjuangan suaminya. Usaha keras pantang menyerahnya membuahkan hasil manis. Salon kecantikan kecilnya mendulang reputasi gemilang, memancing ratusan pelanggan setia. Keuntungan setiap hari rutin ditabungnya.
Ruko sewaan yang dulu kecil dan apa adanya, kini bertransformasi menjadi studio perawatan modern berfasilitas sangat lengkap. Wanda memberanikan diri merekrut tiga karyawati untuk membantu operasional di salonnya.
Sang istri telah menjelma menjadi wanita karier mandiri yang memancarkan aura kesuksesan luar biasa. Pakaiannya selalu rapi dan elegan. Raut wajahnya menyiratkan kepercayaan diri seorang pebisnis tangguh.
Takdir Bima pun ikut bersinar terang benderang menyusul kesuksesan istrinya. Guratan pensil jalanan miliknya berevolusi menjadi karya seni bernilai jual tinggi.
Di suatu siang di pelataran Kota Tua, seorang kurator seni ternama tak sengaja melintas berhenti tepat di depan lapak Bima. Matanya terpaku tak berkedip menatap sebuah lukisan beraliran realis. Sebuah lukisan menampilkan wajah polos Bayu Samudra sedang tersenyum.
"Garis coretanmu memiliki nyawa, Mas. Lukisan yang satu ini sanggup menembus relung jiwa saya. Penuh emosi kejujuran yang murni," puji sang kurator takjub sambil mengelus-elus dagunya.
Pertemuan berkesan itu mengubah garis hidup Bima seratus delapan puluh derajat. Kurator tersebut bertindak sebagai jembatan emas yang membawa karya-karya Bima masuk menembus berbagai galeri seni prestisius.
Penikmat seni kelas elit pada berdatangan. Kolektor barang antik berebut membeli lukisan-lukisannya. Harganya melambung menyentuh puluhan juta rupiah per lembar kanvasnya.
Kini Bima tidak perlu lagi berlarian memanggul alat lukis saat ada razia petugas ketertiban kota tua. Ia resmi meninggalkan trotoar berdebu jalanan ibu kota Jakarta. Pria itu menapaki dunia baru menjadi sosok seniman galeri ternama bertabur sanjungan. Lembaran rupiah mengalir deras mengisi saldo rekening banknya yang akan mengangkat status ekonomi keluarganya.
Keberhasilan finansial luar biasa memampukan mereka melangkah lebih maju mewujudkan mimpi-mimpi besar. Dinding kontrakan lapuk 4x4 di Palmerah telah resmi ditinggalkan selamanya. Kenangan pahit manis tersimpan rapat, menjadi sejarah pembentuk karakter pantang menyerah.
Mereka memutuskan membeli sebuah rumah di kawasan asri pinggiran Jakarta. Lingkungannya sejuk ditumbuhi pepohonan rindang.
Bima menandatangani berkas cicilan bank penuh rasa kebanggaan di dada. Ia berhasil menyediakan tempat bernaung yang layak, murni dari hasil tetesan keringatnya sendiri. Tanpa campur tangan sepeser pun dari harta warisan ayahnya di Surabaya.
Bima berdiri tegap di ruang tamu rumah barunya mengamati sekeliling. Cat putih bersih memanjakan pandangan mata. Hawa sejuk pendingin ruangan mengusir gerah ibu kota. Tempat ini resmi menjadi milik mereka. Buah termanis kerja keras belasan tahun bertarung melawan roda nasib.
❖
Tahun demi tahun melesat bagai anak panah terlepas dari busurnya. Waktu telah merajut sejarah manis itu tanpa henti, membesarkan kedua putra mereka.
Ruang tengah rumah mewah itu kini dipenuhi kehangatan keluarga yang sempurna. Bima duduk bersandar di sofa kulit empuk. Matanya menatap penuh bangga pemandangan di hadapannya.
Wirabuana kini tumbuh menjadi pemuda belia berseragam putih abu-abu. Siswa sekolah menengah atas itu memiliki postur tinggi kekar mempesona. Otot-otot lengannya mulai terbentuk, ia rajin berolahraga di gym sekitar komplek rumahnya. Wajah tampannya sering menjadi pusat perhatian temen-teman gadis di sekolahnya. Wira juga mewarisi sifat protektif sang ayah. Pemuda itu selalu memastikan adiknya aman dari gangguan siapa pun.
Di sampingnya, Bayu Samudra duduk manis mengenakan seragam putih biru barunya. Siswa sekolah menengah pertama itu memiliki raut wajah kalem, bermata sayu pembawa kedamaian dalam keluarga. Kaki kirinya memang mengecil lumpuh tak bertenaga. Tapi keterbatasan itu gagal merenggut senyum cerianya menatap dunia.
Bayu melangkah menggunakan bantuan tongkat penyangga yang selalu menemaninya. Ia tumbuh menjadi remaja cerdas di atas rata-rata anak seusianya. Jari-jari kecilnya menari lincah di atas keyboard laptop kesayangannya.
"Mas Wira jangan mengganggu, Bayu lagi ngerjain tugas nih" protes si bungsu pelan. Kakaknya sengaja menutup layar laptop menggoda sang adik.
"Nanti matamu kaku menatap layar terus, Dek. Istirahat dulu sana," canda Wira mengacak-acak rambut adiknya dengan gemas.
Wanda datang menghampiri mereka membawa nampan berisi tiga gelas jus jeruk dingin. Wanita itu tampak sangat anggun mengenakan kemeja berbahan sutra rapi usai pulang dari salon besarnya. Wajahnya awet muda mempesona terawat sempurna.
"Sudah, Wira. Jangan ganggu adikmu terus. Ayo minum jusnya dulu," tegur Wanda lembut sambil meletakkan nampan di atas meja kaca.
Wanda duduk di sebelah Bima. Ia menyandarkan kepalanya ke bahu sang suami. Tangan Bima merangkul pinggang istrinya mesra mengecup pelan kening wanita tersebut.
"Tak terasa mereka berdua tumbuh sangat cepat ya Mas Bim," bisik Wanda menatap kedua putranya bercanda riang.
Bima tersenyum penuh syukur. Hatinya terasa diguyur ombak kebahagiaan tak berujung. Kebahagiaan sejati rasanya telah benar-benar berada di dalam genggaman tangannya. Ia sukses menaklukkan ibu kota. Bima merasa berhasil menampar keras bayangan otoriter ayahnya. Tanpa mengemis belas kasihan harta keluarga, ia sanggup membangun istana megah untuk keluarga tercintanya.
Semua nampak sangat sempurna tanpa cacat. Layaknya lukisan pemandangan nirwana abadi tanpa celah sedikit pun.
Bima memejamkan mata menghirup aroma kedamaian rumahnya. Ia bersumpah di dalam hati akan mempertahankan tawa riang di ruangan ini sampai akhir sisa usianya. Pria itu menyandarkan punggungnya di sofa membiarkan detik waktu mencatat masa-masa paling membahagiakan dalam sejarah kehidupannya.
Ia tak pernah menyangka apa yang akan terjadi di tahun-tahun berikutnya. Ketangguhannya akan di uji oleh kedatangan cobaan maha dahsyat, ketika badai Pandemi menghantam seluruh dunia.
Bersambung...ke BAB 5
