
Panas Surabaya dan Kerasnya Trotoar Jakarta
Pecahan asbak kristal berserakan menghantam lantai pualam rumah mewah.
"Keluar dari rumah ini jika coretan sampah itu masih kau sebut masa depan!" Suara bariton Hari menggema keras, memantul menabrak pilar-pilar besar ruang keluarga.
Bima bergeming. Rahangnya mengeras kaku. Pemuda dua puluh tahun itu menatap tajam mata ayahnya tanpa sekelumit ketakutan. Penampilannya sangat kontras mencoret kemewahan ruangan itu. Rambut ikalnya gondrong tak beraturan, menutupi sebagian dahi. Kemeja flanel pudar membalut tubuh tegapnya. Tangan kanannya mengepal kuat di samping paha, menyembunyikan sisa noda grafit membekas hitam di sela jari-jarinya.
"Ayah selalu menilai segala hal dari sampulnya saja," balas Bima pelan. Suaranya dingin menusuk. "Kejaksaan mengajari Ayah cara memenjarakan penjahat. Apakah sekarang Ayah juga ingin memenjarakan anak di rumahnya sendiri."
Plakk!
Satu tamparan keras mendarat telak di pipi kiri Bima. Panas menjalar. Perih menyengat kulit. Namun Bima pantang menunduk. Matanya terus menantang pria paruh baya berseragam dinas rapi di hadapannya.
"Anak tidak tahu diuntung!" Napas Hari memburu cepat. Telunjuknya menuding tepat ke depan wajah Bima. "Fasilitas lengkap. Uang saku berlebih. Masa depan sudah kusiapkan rapi. Kamu malah memilih keluyuran bersama berandalan terminal! Membolos kuliah demi coretan mural tembok kumuh pinggir jalan itu!"
Bima hanya tersenyum sinis. Ujung ibu jarinya mengusap darah segar menetes dari sudut bibir. Ia membalikkan badan perlahan.
"Simpan semua fasilitas itu, Ayah. Bima muak."
Malam itu juga Bima mengemasi barang. Ransel kanvas kusam warna zaitun menjadi satu-satunya teman. Ia menolak membawa pakaian mahal berlabel desainer. Hanya beberapa helai kaus oblong, celana jins belel, kotak pensil arang, beserta sebuah buku sketsa tebal bersampul kulit imitasi. Kartu ATM premium gold pemberian ayahnya tergeletak begitu saja di atas meja belajar.
Langkah kakinya terlihat ringan saat menuruni tangga kayu jati ukiran mewah. Terdengar isak tangis tertahan dari balik pintu kamar ibunya. Langkah Bima sempat terhenti sejenak. Ada nyeri tiba-tiba menyelinap memukul dada kirinya. Namun tekadnya sudah bulat tak tergoyahkan. Surabaya terlalu sempit baginya. Bayang-bayang kebesaran nama sang ayah selalu mencekik lehernya setiap kali melangkah keluar pagar rumah. Ia butuh udara segar. Ia butuh kebebasan mutlak. Tanpa kekang. Tanpa aturan formal.
Stasiun Gubeng menyambutnya menjelang tengah malam itu. Udara dingin mulai menusuk tulang. Kereta ekonomi tujuan Jakarta membunyikan peluit panjang memecah keheningan. Bima melangkah naik melewati pintu gerbong berkarat. Duduk menyudut di dekat jendela kaca kusam, ia menatap deretan lampu kota bergerak mundur perlahan sirna ditelan gelap.
Roda besi bergesekan menggosok rel menghasilkan irama monoton. Ingatan Bima melayang mundur menelusuri masa kecilnya. Rumah mewah bertingkat tiga. Deretan mobil Eropa. Sopir pribadi berseragam. Deretan guru les privat bergantian mendatangi rumah. Semua fasilitas itu terasa palsu. Ia membenci kemunafikan dunia kelas atas itu.
Bima cilik lebih sering melarikan diri, memanjat melompati tembok belakang kompleks perumahan elite mereka. Bergabung bersama anak-anak kampung pinggiran bantaran sungai. Mencuri waktu bolos sekolah hanya untuk menonton film aksi di bioskop tua berbau pesing. Di sana, di tengah kepulan asap rokok penonton ber-tiket kelas ekonomi, Bima justru menemukan kejujuran. Mereka tertawa lepas tanpa perlu menjaga wibawa.
Kini, gerbong kereta besi ini membawanya menjauh pergi. Menuju ibu kota. Tanpa rencana matang. Tanpa bodyguard bayaran ayahnya.
Dua belas jam berselang, Jakarta menyambutnya dengan tamparan panas matahari siang. Stasiun Pasar Senen riuh rendah memekakkan telinga. Suara klakson mikrolet bersahutan, teriakan parau kuli panggul berebut penumpang, aroma keringat masam bercampur debu aspal langsung menyergap hidungnya. Bima berdiri tegak di lobi luar depan stasiun. Ia menghirup udara berpolusi itu dalam-dalam hingga memenuhi paru-parunya.
Inilah aroma kebebasan.
Namun, kebebasan yang dikejarnya ternyata mematok harga sangat mahal.
Minggu-minggu pertama terlewati layaknya simulasi neraka. Uang saku di dompet kulitnya menyusut drastis hanya dalam hitungan hari. Bima harus menelan pahitnya realita. Tidurnya berpindah-pindah percis gelandangan sejati. Dari emperan toko kelontong tutup, bangku semen taman kota, hingga meringkuk kedinginan di sudut halte busway. Perutnya sering berbunyi nyaring menahan perihnya lapar. Terkadang ia hanya sanggup membeli sebungkus mi instan mentah untuk digigit sedikit demi sedikit sepanjang hari.
Ego prianya menahan jemarinya menghubungi keluarga di Surabaya. Pulang berarti kalah. Menyerah berarti mengakui kebenaran mutlak kata-kata ayahnya. Dan Bima menolak kalah.
Tubuhnya makin mengurus. Tulang pipinya menonjol tegas. Kulit terangnya kini terbakar terik matahari berubah menjadi kecokelatan kusam. Rambut ikalnya memanjang liar tak terurus menyentuh kerah baju. Namun, sorot matanya justru menyala lebih terang. Di tengah kerasnya aspal Jakarta, insting bertahan hidupnya bangkit berontak.
Sore itu, di sudut kawasan Kota Tua, Bima menggelar tikar plastik UV tipis hasil memulung di belakang pasar. Ransel bututnya menjadi penyangga buku sketsa. Ia mengeluarkan selusin pensil arang kesayangannya. Jari-jarinya mulai menari lincah di atas kertas putih bersih.
Objek pertamanya sore itu adalah sebuah gedung kolonial tua peninggalan Belanda di seberang jalan. Garis demi garis tercipta tegas penuh percaya diri. Arsirannya sangat detail, sukses menangkap bayangan dramatis matahari senja di sela-sela jendela usang.
Seorang wisatawan dari luar Jakarta berhenti melangkah. Pria paruh baya bertopi fedora itu memperhatikan lukisan Bima lekat-lekat.
"Berapa harga lukisan wajah, Mas?" tanya pria itu menunjuk kertas kosong.
Bima mendongak. Jakunnya turun naik menelan ludah.
"Terserah Bapak. Seikhlasnya saja Pak."
Tangan Bima kembali bergerak cepat bak mesin cetak. Matanya menatap wajah keriput pria itu bergantian menuju media kertasnya. Fokusnya tajam. Ia mengabaikan perutnya meronta minta diisi. Hanya butuh waktu lima belas menit. Sketsa wajah berkarakter selesai sempurna. Guratan lelah pada mata pria itu berhasil ia tangkap paripurna lewat arsiran pensil 12B.
Pria itu tersenyum puas, mengangguk pelan, meletakkan selembar uang lima puluh ribu di atas tikar Bima.
Lima puluh ribu pertama dari keringatnya sendiri.
Bima menatap lembaran uang berwarna biru itu lama sekali. Ada kebanggaan luar biasa meletup-letup di dadanya. Di Surabaya dulu, uang nominal sekecil ini hanya cukup untuk membayar parkir valet kafe mewah. Di sini, di atas trotoar berdebu ini, lima puluh ribu adalah penyambung nyawa. Lembaran ini adalah bukti ia mampu berdiri di atas kakinya sendiri.
Sejak hari itu, sudut pelataran Kota Tua resmi menjadi rumah keduanya. Debu jalanan, asap knalpot pekat, bising alat musik pengamen jalanan menjadi simfoni pengiring kesehariannya. Pelanggannya kian beragam. Mulai mahasiswa mencari kado murah, pasangan kekasih merayakan hari jadi, turis asing penasaran, hingga pekerja kantoran yang lewat mencari hiburan sore.
Terkadang, ritme tenangnya harus pecah seketika. Bima harus tergesa-gesa membereskan lapaknya lalu berlari kencang saat petugas ketertiban kota mendadak datang merazia. Kaki beralas sandal jepit tipisnya sering tak sengaja menginjak pecahan beling. Napasnya tersengal kala bersembunyi di balik tumpukan kardus gang sempit.
Anehnya, malah tawanya selalu pecah setiap kali petugas razia pergi berlalu.
Ia menikmati setiap detik penderitaan itu. Tidak ada lagi aturan ketat menjaga tata krama keluarga. Tidak ada lagi tuntutan memaksa senyum palsu demi menjaga nama baik reputasi ayahnya. Di atas aspal mendidih itu, Bima bukan lagi anak emas pejabat tinggi kejaksaan. Ia telah membunuh identitas itu.
Ia kini hanya Bima. Sang pelukis jalanan. Penjual goresan pensil arang pencari kebebasan sejati. Kota ini perlahan mulai memeluknya, meski dengan pelukan penuh duri.
Sore itu, langit Jakarta memerah tembaga. Sepasang sepatu kanvas putih bertuliskan Adidas berhenti tepat di ujung tikar plastiknya. Aroma parfum jasmine samar menguat menembus pekatnya asap knalpot.
Bima mendongak. Matanya terpaku. Di balik siluet senja, seorang gadis menatapnya lekat. Senyum manis terukir di wajahnya.
Bima belum menyadari satu hal yang akan mengubah jalan hidupnya. Senyum manis itulah kelak membawanya terbang menyentuh surga terindah. Sekaligus menyeretnya jatuh membentur dasar neraka paling hina.
Bersambung...ke Bab 2