Ringkasan Cerita:
- Janji di Bawah Pohon Sakura: Bagus menjalin romansa yang indah dengan Gadis. Di tepi danau yang tenang, ia mengikat janji suci untuk menjaga sang pujaan hati selamanya.
- Perpisahan: Takdir berkata lain, perpisahan Gadis karena penyakit yang di deritanya. Kepergiannya meninggalkan luka yang mendalam di hati Bagus.
- Restu dari Surga: Setelah bertahun-tahun meratapi kesendirian, di bangku taman yang sama, kehadiran seorang wanita bernama Jelita perlahan mencairkan hati Bagus, membawa pesan bahwa cinta sejati selalu mengizinkan Bagus untuk kembali melangkah.
Bayangan Masa Lalu di Atas Air Danau
Ceritasakti.com - Terkadang, kenangan menolak untuk terkubur, memilih hidup abadi di balik lipatan waktu. Di tepi danau yang memantulkan semburat jingga senja, Bagus berdiri, membiarkan hembusan angin sore membelai wajahnya yang menyimpan ribuan kerinduan tak terucap.
"Aku tidak bisa berjanji bahwa langit akan selalu cerah. Tapi aku berjanji bila hujan badai datang, aku akan menjadi tempat berteduhmu Gadis.."
Gema kalimat itu tiba-tiba kembali terngiang di telinganya, berbisik bercampur dengan angin, seolah baru kemarin ia mengucapkannya.
Matanya menerawang jauh menembus permukaan air danau, menggali kembali saat-saat indah bersama sosok yang membawa separuh jiwanya untuk selamanya. Dalam keheningan senja, riak halus air seolah memutar kembali panggung masa lalunya bersama Gadis.
Senyum Yang Hentikan Waktu
Tujuh musim daun gugur telah berlalu sejak hari pertama mereka bertemu. Di bangku kayu usang yang tak jauh dari pijakannya sekarang, takdir pernah mempertemukannya dengan Gadis.
Saat itu, sekuntum senyum terlukis di wajah Gadis saat ia tanpa sengaja menjatuhkan buku catatannya, dan Bagus memungutkannya. Pertemuan pandangan mereka hanyalah berlangsung beberapa detik, namun bagi Bagus, dunia seakan berhenti berputar.
Jantungnya berdegup dengan ritme yang tak lazim. Sejak senyuman pertama itu, Bagus tahu bahwa hatinya yang selama itu mengembara telah menemukan tempat untuk berlabuh.
Setelah itu, hari-hari yang mereka berdua lalui dipenuhi kebahagiaan. Mereka acap kali menyusuri jalan setapak yang dipenuhi bunga-bunga liar. Setiap canda dan tawa yang mereka tebar seolah menjadi pupuk bagi benih-benih cinta yang perlahan mengakar kuat di dalam dada.
Kebahagiaan mereka sangatlah sederhana. Mereka tidak membutuhkan kata-kata puitis yang rumit. Hanya dengan duduk bersisian mendengarkan cerita satu sama lain, dunia sudah terasa sangat sempurna.
Ikrar Janji Suci Abadi
Suatu sore yang teduh, di bawah rimbunnya pohon sakura besar yang daunnya mulai berguguran, Gadis memeluk lengan kiri tangan Bagus. Di tempat itulah mereka ucapkan bait ikrar janji suci abadi, getaran suaranya selalu menghantuinya di setiap senja hingga kini.
"Kau adalah satu-satunya rumah untuk cintaku, Bagus,"
Ucap Gadis kala itu dengan suara lembut namun penuh yakin. Mata indahnya berbinar bahagia sambil menatap pemuda di sampingnya.
Bagus membalasnya dengan genggaman yang lebih erat. Di bawah bayangan pohon tempat mereka sering berlindung dari teriknya matahari, ikatan suci itu terukir abadi.
Jatuhnya Bunga Sebelum Musimnya
Namun, sang waktu sering kali memiliki naskah ceritanya sendiri yang tak bisa ditawar.
Pada tahun ketiga kebersamaan mereka, kesehatan Gadis menurun. Seperti bunga yang layu sebelum musim kemarau tiba, ia jatuh sakit dan tubuhnya melemah tanpa sebab yang jelas. Wajahnya yang dulu selalu merona dan ceria kini memucat bagai porselen tua.
Hari-hari bahagia serasa telah disabotase takdir. Gadis harus terbaring di tempat tidurnya. Namun, tak sedetik pun Bagus sudi beranjak dari sisinya. Pemuda itu terus menemani, bercerita lucu, dan menyuapinya dengan penuh kasih sayang. Bahkan saat rasa lelah merantai tubuhnya, hingga matanya terlihat cekung kurang tidur, Bagus tidak pernah mengeluh.
Kehadiran dan kasih sayang Bagus menjadi satu-satunya kekuatan bagi Gadis untuk terus menahan rasa sakit yang semakin memburuk.
Namun, sekuat apa pun manusia menjaga nyala api cinta, pada akhirnya suratan takdir akan tetap menelannya. Ibarat lilin yang dihembus angin malam, napas Gadis kian melemah. Setiap malam, air mata Bagus tumpah bersama doa-doa sunyi, berharap pemilik semesta mengembalikan kesehatan tambatan hatinya. Tapi..harapan itu kian tipis.
Pesan Terakhir di Ujung Senja
Di suatu senja nan muram, Gadis membuka perlahan matanya yang sayu. Ia memandang Bagus dengan tatapan sangat dalam, penuh sayang, namun tersirat perpisahan.
"Bagus..."
Suara Gadis nyaris tak terdengar, hanya berupa bisikan amat pelan.
"Terima kasih... telah mencintaiku dengan sangat tulus. Berjanjilah padaku.. apapun yang akan terjadi, jangan biarkan hatimu ikut mati bersamaku". Gadis menyadari bahwa waktunya di dunia ini telah habis. Ia ingin Bagus tahu itu, bahwa cintanya tak akan pernah luntur oleh waktu.
Bagus hanya sanggup menunduk, dahinya tersandar di tepi ranjang besi rumah sakit itu. Bahunya berguncang, menahan perih cobaan yang terasa merobek-robek dadanya.
Tak lama setelah pesan terakhir itu terucap, Sang Ilahi telah memanggilnya, Gadis memejamkan mata untuk selama-lamanya. Kedamaian terlukis di wajah cantiknya, meninggalkan Bagus yang mendekap tubuh dingin itu dalam ratapan pilu menyayat hati.
Masa Lalu di Bangku Kayu
Kepergian Gadis meninggalkan air mata dan ruang hampa di hati Bagus. Duka mendalam membelenggu jiwanya selama bertahun-tahun.
Sejak hari perpisahan itu, setiap sore Bagus selalu menyempatkan diri ke taman tempat kenangan mereka terajut. Ia duduk sendirian di bangku kayu di bawah pohon sakura. Tangannya menggenggam sekelopak bunga sakura yang mulai mengering, simbol kesetiaan abadi.
Di setiap kedipan matanya saat memandang danau, Bagus selalu melihat bayang-bayang senyum Gadis. Kehadirannya di taman itu setiap hari adalah bentuk penghormatan tulus, pada cinta suci yang dulu pernah memberinya begitu banyak kebahagiaan.
Sinar Mentari di Balik Kabut
Waktu terus bergulir, menyembuhkan luka tapi tak mampu menghapus bekasnya.
Suatu hari, ketika Bagus sedang merenung di bangku kayu taman itu, seorang wanita muda melintas. Langkah wanita itu berhenti, dan ia melemparkan senyum ramah ke arah Bagus dari kejauhan.
Entah mengapa, senyuman itu tiba-tiba mengalirkan spektrum aneh ke dalam dada Bagus yang selama ini telah lama membeku. Ada sesuatu yang sangat familiar dari pancaran mata dan senyum menawan wanita itu. Seolah-olah, Tuhan di atas sana sengaja mengirimkannya sebagai pengisi ruang kosong di hati Bagus.
Bagus akhirnya memberanikan diri untuk membalas senyuman itu. Mereka pun mulai berbincang. Nama wanita itu adalah Jelita.
Sulit meng-andaikan dengan kata-kata. Bagaikan pinang dibelah dua, Jelita memiliki keceriaan, kebaikan hati, dan cara bertutur kata yang sangat mirip dengan cinta pertama Bagus.
Perlahan namun pasti, percakapan mereka menjadi candu yang mulai mengisi jiwa Bagus yang kosong. Untuk pertama kalinya dalam tujuh tahun, akar benih cinta kembali menusuk dadanya.
Setangkai Bunga Mawar Merah
Pada senja indah berikutnya, masih di bangku taman tepi danau di bawah pohon sakura yang teduh. Tepat di mana janji cinta pertama Bagus terukir. Jelita menerima dengan ikhlas, setangkai bunga mawar merah yang diberikan Bagus.
Angin danau membelai manja mereka berdua, menjatuhkan beberapa kelopak bunga sakura ke pangkuan mereka. Detik itu, Bagus memejamkan mata. Ia merasakan Gadis sedang tersenyum dari surga, menitipkan restunya melalui lambaian angin.
Bagus sadar, cintanya kepada Gadis tak akan pernah hilang bahkan tergantikan. Namun, ia juga yakin bahwa cinta sejati tidak mungkin egois. Cinta sejati pasti inginkan kita untuk melanjutkan hidup dan menemukan kebahagiaan di muka bumi ini.
Lembaran Baru Menyongsong Masa Depan
Bagus menggenggam tangan Jelita. Mereka berdiri berdampingan di tepi danau, memandangi matahari terbenam yang kini tak lagi terasa sepi.
Cinta suci abadi tanpa syarat. Kini, ia menjemput lembaran masa depannya bersama Jelita, sembari membawa kenangan indah tentang Gadis di tempat yang paling terhormat di dalam hatinya.
Cerita mereka membuktikan bahwa waktu boleh berlalu, begitu pun cinta tulus abadi akan selalu hidup, hanya berubah bentuk, dan terus menuntun kita untuk melangkah maju menyongsong masa depan bahagia.
Sajak Cinta Abadi
Cinta sejati tak pernah pudar, Meski waktu berlalu tetap bersinar.
Dalam samar kabut cobaan, Tegas menyongsong masa depan.
Ikhlas tanpa syarat, Menyala abadi selamanya.
Dalam relung hati terukir nyata, Cinta ini abadi, sampai akhir dunia.
~ceritasakti~
Selesai
