Jumat, 14 Agustus 2026

Kulepaskan Semua Dengan Ikhlas Bab 2 : Cahaya Matahari di Sudut Kota Tua

Kulepaskan Semua Dengan Ikhlas Bab 2 : Cahaya Matahari di Sudut Kota Tua


BAB 2

Cahaya Matahari di Sudut Kota Tua


Gadis itu mendudukkan diri di atas kursi lipat kayu milik Bima. Sikapnya sama sekali tidak canggung. Suaranya terdengar renyah mengalahkan bising hiruk-pikuk pengunjung di sekeliling mereka.

"Tolong buat wajah saya terlihat sedikit lebih ceria ya, Mas," pintanya sedikit centil.

Tangannya bergerak merapikan helai rambut yang jatuh menutupi dahi.

Bima tersenyum tipis. Jarinya memegang erat batang pensil arang. Matanya menatap tajam lekuk wajah di hadapannya. Alis tipis melengkung indah. Mata bulat berbinar-binar. Lesung pipit kecil mencuat di pipi kiri setiap kali bibirnya menyunggingkan senyum.

Arang hitam mulai menari lincah di atas kertas sketsa. Bima mulai mengarsir perlahan bias bayang senja dari wajah gadis itu. Tarikan garisnya sangat tegas dan spontan.

"Wajah asli Mbak sudah cukup ceria", pancing Bima memulai perbincangan sore itu. Matanya melirik sejenak dari balik kertas.

Gadis itu tertawa pelan. Matanya menyipit menatap balik mas pelukis.

"Ya.. Berarti Mas pelukis tidak perlu capek-capek sore ini," balasnya santai. Tangannya bertumpu pada lutut, mencondongkan badan sedikit ke depan mengintip proses menggambar.

Bima menajamkan pandangan. Fokusnya berpindah bergantian dari mata sang gadis menuju kertas sket. Garis rahang mulai terbentuk sempurna. Arsirannya makin rapat menangkap siluet cahaya mentari senja di wajah pelanggan istimewanya ini.

"Mbak, Saya harus menuliskan sebuah nama di sudut sketsa ini. Syarat wajib hasil karya saya," karang Bima lancar, memancing sebuah nama.

Gadis itu memiringkan kepalanya sedikit. Alis kanannya terangkat naik terperanjat kaget.

"Ah, masa? Pelanggan sebelum saya tadi, tidak ditanya nama sama sekali. Saya memperhatikannya loh dari seberang jalan."

Bima tersenyum sedikit melebar. Taktiknya terbongkar terlalu cepat. Ia menghentikan goresan pensinya sejenak, membalas tatapan gadis itu dalam-dalam.

"Saya memberikan perlakuan khusus untuk pelanggan berlesung pipit seperti, Mbak" sahut Bima pantang menyerah. Nada suaranya terdengar rendah, tapi sarat rasa percaya diri khas seorang pemuda jalanan.

Semburat merah tipis menjalar di kedua pipi gadis itu. Gugup sudah pasti. Ia memalingkan wajah menatap deretan gedung kolonial tua di seberang jalan, menyembunyikan salah tingkahnya. Jemarinya memuntir-muntir ujung tali tas bahunya.

"Tulis saja Wanda," ucapnya pelan. Wajahnya kembali menatap Bima, kali ini disertai senyum paling manis sekota jakarta.

"Nama yang bagus. Sangat pas bersanding dengan senyuman sore ini," puji Bima tulus.

Tidak ada kebohongan dalam pujian itu. Bima kembali menunduk. Tangannya bergerak cepat bak mesin cetak. Ia menangkap kilau mata Wanda memantulkan pendar sinar senja. Guratan pensil Joyko itu selesai sempurna hanya dalam belasan menit.

"Sudah selesai," ujar Bima mengulurkan lembaran kertas lukis tersebut.

Wanda menerima hasil karya Bima. Matanya membelalak kagum. Tangannya mengelus permukaan kertas penuh kehati-hatian. Garis arang itu tidak sekadar menyalin wajahnya, melainkan menangkap aura di dalam dirinya.

"Indah sekali. Garis arangnya terasa hidup," puji Wanda bersungguh-sungguh. "Kamu punya bakat luar biasa, Mas."

Ia membuka resleting tas bahunya, mengambil beberapa lembar uang kertas. Wanda tidak meletakkannya di atas tikar, melainkan menyodorkannya langsung ke genggaman telapak tangan kasar Bima.

"Terima kasih banyak, Mas pelukis. Namaku Wanda. Kamu?"

"Bima."

"Sampai jumpa lagi, Bima."

Gadis itu berdiri. Langkah kakinya bergerak menjauh membaur di antara kerumunan pengunjung. Bima memperhatikan punggungnya menyusut hingga sirna di balik deretan gedung tua. Ada getaran spektrum aneh menetap di rongga dadanya. Sore itu, lembaran uang pemberian Wanda terasa sangat berbeda. Bima melipatnya rapi, memasukkannya ke saku kemeja paling dalam.

Satu minggu berlalu sangat lambat. Bima menjalani harinya seperti biasa. Ia mengawali pagi memanggul karung beras di pasar, lalu bersiap melukis menjelang siang hari.

Matahari sedang terik-teriknya memanggang ubun-ubun. Bima berjalan menyusuri trotoar berdebu menuju tempat biasa ia menggelar lapak. Ransel kanvas kusam menempel berat di punggung. Tangannya menjepit erat sebuah papan kayu lukis.

Langkah kaki Bima terhenti di tepi persimpangan jalan raya sangat ramai. Lampu lalu lintas berganti warna merah. Pejalan kaki berbondong-bondong mulai menyeberang.

Di antara kerumunan manusia berlalu-lalang itu, Bima menangkap sosok familier. Kemeja putih kotak-kotak. Celana jin biru terang. Tas bahu cokelat. Itu Wanda. Gadis itu sedang menyeberang melangkah santai.

Petaka terjadi sangat cepat. Hitungan detik mengubah suasana tenang menjadi jerit kepanikan.

Suara deru mesin melengking nyaring dari arah kanan. Sebuah sepeda motor melaju ugal-ugalan menerobos lampu merah. Pengendaranya panik melihat barisan manusia di tengah jalan, berusaha mengerem mendadak memutar setir ke arah kiri.

Ciiiiiiiiiit! Bruaakk!!

Suara decitan ban bergesekan keras diatas aspal mendidih. Bodi besi motor menyenggol keras pinggul Wanda. Gadis itu terpental. Tubuhnya jatuh tersungkur membentur aspal jalanan. Pengendara motor itu juga nyaris terjatuh, tapi segera menancap gas kabur melarikan diri menyisakan kepulan asap.

"Aduhh!" jerit Wanda memekik tertahan. Tangannya memegangi kaki kirinya.

Bima melepaskan papan lukisnya begitu saja ke atas trotoar. Alat lukisnya berserakan berhamburan ke selokan. Ia sama sekali tidak peduli. Kakinya berlari kencang menerobos kerumunan orang menyeberangi jalan. Jantungnya berdegup kencang.

"Mbak, tidak apa-apa?" teriak seorang warga panik berkerumun.

Bima membelah paksa kerumunan tersebut. Matanya membelalak lebar melihat Wanda meringkuk memegangi pergelangan kakinya. Wajah gadis itu pucat pasi. Keringat dingin sebesar biji jagung membasahi pelipisnya.

"Wanda!" panggil Bima refleks menjatuhkan kedua lututnya ke aspal panas.

Wanda mendongak. Matanya berkaca-kaca menahan sakit luar biasa. Napasnya tersengal-sengal menahan tangis.

"Mas pelukis... kaki saya sakit sekali. Tidak bisa digerakkan," rintih Wanda mencengkeram lengan kemeja kusam Bima.

Bima menatap pergelangan kaki kiri gadis itu. Membengkak membiru. Posisinya sedikit janggal. Cedera tulang. Insting menolong Bima mengambil alih. Ia tidak membuang waktu satu detik pun.

"Tahan sebentar. Tarik napas dalam-dalam. Kita ke klinik sekarang," ujar Bima tegas. Suaranya memberi ketenangan luar biasa meredam kepanikan Wanda.

Bima menyelipkan lengan kirinya ke bawah lipatan lutut Wanda. Lengan kanannya menopang punggung gadis itu. Ia merengkuh tubuh Wanda perlahan, mengangkatnya kuat-kuat ke dalam pelukan. Aroma parfum jasmine kembali menyergap hidungnya, kali ini bercampur aroma debu jalanan.

Bima memapah Wanda menembus kerumunan. Ia berdiri di tepi jalan, melambaikan tangan menghentikan sebuah taksi biru yang melintas. Ia membaringkan Wanda perlahan di kursi belakang, menyusul duduk di samping gadis itu.

Taksi melaju membelah kemacetan ibu kota. Wanda meringis kesakitan sepanjang perjalanan. Kepalanya tersandar lemas di bahu Bima. Pria itu membiarkan kemejanya basah oleh air mata sang gadis.

Aroma cairan antiseptik menyengat tajam rongga hidung. Ruang gawat darurat klinik setempat terasa sangat dingin menusuk tulang.

Bima berdiri tegap bersandar pada dinding di samping ranjang periksa. Matanya menatap cemas ke arah dokter paruh baya yang sedang membebat kaki kiri Wanda.

"Ada keretakan kecil di tulang betis bawah. Beruntung lukanya tidak parah sampai merobek daging," jelas dokter merapikan peralatannya. "Gips ini harus terpasang beberapa minggu. Jangan dipaksa berjalan."

Wanda mengangguk pelan. Wajahnya masih menyisakan rona pucat. Setelah dokter berlalu pergi, ia menatap Bima berdiri canggung di sudut ruangan. Baju pria itu kotor terkena noda lumpur jalanan. Keringat membasahi seluruh wajahnya.

"Mas, maafkan saya. Kamu jadi repot. Peralatan melukismu pasti tertinggal hilang di pinggir jalan tadi," ucap Wanda serak. Matanya memancar rasa bersalah teramat besar.

Bima hanya menggeleng pelan. Ia melangkah mendekati ranjang, menarik kursi plastik, duduk tepat di samping Wanda.

"Peralatan melukis itu bisa kucari ulang besok pagi. Nyawamu lebih penting. Berhentilah meminta maaf."

Wanda menatap balutan gips di kakinya. "Biaya kliniknya pasti mahal. Dompetku tertinggal di salon."

"Sudah aku lunasi di depan tadi kok.. Kamu cukup fokus beristirahat memulihkan kakimu."

Wanda menatap Bima seakan tak percaya. Ia tahu persis kehidupan pelukis jalanan. Nominal tagihan klinik itu setara dengan berminggu-minggu penghasilan melukis di trotoar. Pasti Bima baru saja menguras habis seluruh uang simpanannya.

"Aku akan mengganti semua uangmu, Mas. Aku berjanji," bisik Wanda penuh salah.

Bima hanya membalasnya lewat sebuah senyuman tipis. Uang bukan masalah baginya. Menyaksikan gadis ini selamat saja ia sudah bisa bernapas lega.

Sore menjelang malam, Bima mengantar Wanda pulang menaiki taksi. Alamat tujuan mengarah ke kawasan pemukiman asri Jakarta Pusat.

Taksi berhenti di depan sebuah rumah berhalaman luas. Bima memapah Wanda keluar dari kendaraan. Orang tua Wanda segera berlari keluar rumah menyambut kedatangan putri mereka penuh kepanikan.

Ibu Wanda menangis memeluk putrinya. Ayah Wanda menatap Bima penuh rasa terima kasih. Mereka mempersilakan Bima masuk ke dalam rumah. Ruang tamu itu dihiasi perabotan kelas menengah. Lampu gantung kristal memancarkan cahaya kekuningan itu khas rumah orang berada.

Keluarga Wanda berasal dari kalangan diatas sederhana, orangtuanya asli ibu kota. Ayah Wanda memiliki usaha jasa ekspedisi kargo. Kemewahan ini terasa tidak asing bagi Bima. Pemandangan ini mengingatkannya pada rumah masa kecilnya di Surabaya. Rumah tempat ayahnya dulu sering membentaknya setiap malam. Tapi Bima cepat-cepat mengubur memori buruk itu dalam-dalam.

Bima menolak halus tawaran makan malam keluarga tersebut. Ia memilih pamit undur diri kembali ke jalanan gelap Jakarta.

Hari-hari berikutnya menjadi awal babak baru kehidupan Bima.

Setiap pagi sebelum memulai lapak lukisan, ia menyempatkan diri datang menjenguk Wanda. Kadang ia berkunjung ke rumah Wanda. Kadang ia mendatangi bangunan ruko kecil tempat Wanda merintis bisnis salon kecantikannya.

Tembok pembatas akibat perbedaan kasta sosial perlahan runtuh. Orang tua Wanda menyambut Bima sangat ramah. Mereka tidak mempermasalahkan penampilan kumal Bima. Mereka murni mengagumi ketulusan pria jalanan itu menyelamatkan nyawa putri semata wayang mereka.

Suatu siang di luar kaca ruko salon. Hujan turun cukup deras . Pelanggan sedang sepi. Wanda duduk berselonjor di sofa ruang tunggu. Kaki kirinya masih terbalut gips tebal. Bima duduk di seberang meja asyik menggoreskan pensil arang yang baru dibelinya ke atas buku sketsa.

"Kenapa kamu memilih hidup di jalanan, Bim?"

Pertanyaan Wanda memecah suara gemuruh hujan. Gadis itu menopang dagu menatap wajah serius Bima menggambar.

Bima menghentikan gerak tangannya. Ia menatap dalam-dalam mata bulat Wanda.

"Jalanan itu jujur. Orang-orangnya apa adanya tidak pernah memalsukan kenyataan." Bima menjawab sangat tenang. "Tidak harus menjaga nama baik keluarga. Tidak ada kepalsuan. Aku hidup dari apa yang sanggup kukerjakan dengan kedua tanganku sendiri."

Wanda terdiam berusaha mencerna kalimat tersebut.

"Kamu punya bakat sangat besar, Bima. Lukisanmu bagus, terasa sangat hidup. Sayang sekali jika bakat itu hanya berakhir di atas trotoar berdebu selamanya."

Bima tersenyum getir. Ia menunduk mengelap sisa noda arang di ujung jarinya.

"Entahlah Wanda.. bagiku trotoar berdebu itu justru memberiku napas kehidupan."

Bima sengaja merahasiakan identitas aslinya. Ia tidak pernah menyebutkan fakta mengenai ayahnya adalah Seorang pejabat tinggi kejaksaan di Surabaya pemilik kekayaan melimpah ruah, jauh melampaui aset keluarga Wanda saat ini. Tapi di mata Wanda sekeluarga, Bima hanyalah pelukis jalanan bersahaja berjiwa bebas pencari jati diri.

Pembicaraan mereka mengalir jauh semakin dalam. Tak ada yang ditutupi lagi, Wanda mulai menceritakan semuanya termasuk impian terbesarnya.

"Aku menolak bekerja meneruskan perusahaan Ayah," ucap Wanda menatap pantulan dirinya di cermin salon. "Semua orang menganggapku anak manja. Mereka pikir aku bisa hidup enak tinggal meminta uang bulanan."

Bima mendengarkan penuh perhatian. Tangannya sambil kembali mengarsir lambat.

"Aku nekat menyewa ruko kecil ini. Aku merintis salon kecantikan ini, murni dari uang tabunganku semasa kuliah."

"Aku ingin membuktikan kemampuanku sendiri. Berdiri di atas kakiku sendiri. Bebas dari bayang-bayang harta orang tua."

Pernyataan Wanda barusan bagaikan aliran listrik menyengat telinga Bima. Kesamaan visi hidup itu laksana menjalin benang merah tak kasat mata di antara mereka berdua. Mereka berasal dari belahan dunia yang berbeda, namun berujung mencari muara yang sama.

Rasa kagum Bima pada kemandirian Wanda seketika bermetamorfosis. Benih cinta mulai tumbuh mengakar kuat di dasar hatinya.

Tiga tahun berlalu, waktu berjalan sangat cepat. Cinta di antara Bima dan Wanda tumbuh makin kokoh melewati segala badai ujian menuju hubungan lebih serius.

Bima bersikeras menolak seluruh tawaran bantuan finansial dari keluarga Wanda. Ia juga pantang memohon bantuan bayang-bayang kekayaan ayahnya di Surabaya. Harga dirinya terlalu mahal. Ia bertekad membangun rumah tangga murni dari peluh keringatnya sendiri.

Wanda menghargai keputusan Bima. Gadis itu pun rela meninggalkan rumah megah ayahnya demi mendampingi pria pilihannya memulai hidup dari titik terendah.

Pernikahan dilaksanakan sangat sederhana. Jauh dari kata mewah. Tanpa pesta meriah di aula hotel berbintang. Tanpa rentetan karangan bunga pejabat menghiasi jalanan. Acara suci itu hanya berlangsung di Kantor Urusan Agama setempat. Hanya dihadiri keluarga dekat Wanda serta beberapa sahabat musisi pengamen dan sesama pelukis jalanan kawan Bima.

Bima mengucap ijab kabul penuh ketegasan lantang. Jarinya menyematkan sebuah cincin sederhana ke jemari manis Wanda. Cincin itu dibelinya dari hasil jerih payah melukis ratusan wajah di trotoar selama berbulan-bulan. Senyum bahagia terukir indah abadi di bibir mereka berdua hari itu.

Bima memeluk Wanda erat-erat. Air mata syukurnya tumpah membasahi batik pernikahannya.

Pria itu masih belum menyadari rahasia takdir ke depan. Kehadiran dua malaikat kecil kelak menjadi tanda awal mula rentetan badai penghancur retaknya dinding istana kecil mereka.

Bersambung... Bab 3

Kisah Nola dan Nobi Si Prajurit Gigi di Istana Mulut

Kisah Nola dan Nobi Si Prajurit Gigi di Istana Mulut


Waktu baca: 2 menit

Pasukan Putih Istana Mulut


Ceritasakti.com - Di sebuah Istana Mulut yang bersih dan berseri kisah ini bermula. Istana Mulut memiliki deretan prajurit penjaga berwarna putih bersih.

Nola si gigi geraham berdiri tegap berdampingan bersama Nobi si gigi seri. Mereka bertugas menghancurkan semua makanan yang menembus pintu masuk istana.

"Kita harus selalu mandi dua kali sehari," ucap Nola bersemangat.

"Tentu saja agar baju zirah kita tetap putih berkilau," balas Nobi tersenyum lebar.

Mereka selalu rutin membersihkan diri setiap pagi sebelum beraktivitas. Malam hari sebelum tidur juga menjadi waktu mandi wajib bagi seluruh prajurit istana. Kegiatan ini rutin dan berulang demi menjaga kekuatan pertahanan mereka.

Serangan Air Hujan Hitam


Suatu siang langit Istana Mulut tiba-tiba berubah sangat gelap gulita. Hujan air berwarna hitam pekat turun mengguyur seluruh pasukan penjaga. Air hitam itu ternyata merupakan minuman kopi kesukaan sang pangeran istana.

Noda kecokelatan seketika menempel menutupi permukaan tubuh Nola.

"Aduh.. tubuhku menjadi kotor terkena guyuran cairan pekat ini!" keluh Nola bersedih.

"Air hitam itu membuat baju zirah pelindung kita rusak," tambah Nobi panik ketakutan.

Bintik-bintik kotoran manis itu adalah sarang kuman jahat musuh prajurit gigi. Pasukan putih harus segera mencari bantuan untuk membasmi noda tersebut. Mereka berteriak lalu memanggil bala bantuan pasukan kebersihan.

Bantuan Peri Benang Ajaib


Sisa kotoran lengket itu masih terselip membandel terjepit pada tubuh mereka. Tiba-tiba seutas tali putih bersinar meluncur turun melewati langit-langit istana. Peri Benang terbang datang membawa pertolongan menyelamatkan para prajurit.

"Hai.. Biar aku bersihkan celah sempit di antara tubuh kalian," sapa Peri Benang lembut.

Tali ajaib itu bergerak lincah menarik keluar sisa kotoran membandel. Nola menghela napas panjang merasa sangat lega. Senyum ceria kembali menghiasi wajah kotak si geraham itu.

Tidak ada lagi kotoran tersembunyi penyebab sarang kuman perusak. Celah sempit tubuh mereka terbebas dari ancaman kejahatan.

Pasukan Sikat Elektrik Baru


Selain itu, ada pasukan sikat yang dipimpin Sika setiap hari standby, siap berkeliling ke seluruh Istana Mulut.

Sika, si kakek Sikat Tua kini sudah kelelahan menjalankan tugas rutinnya. Bulu kepalanya sudah berantakan melebar ke segala arah tak beraturan. Pangeran istana akhirnya mendatangkan pasukan sikat baru bermesin elektrik canggih.

Sikat baru itu berputar otomatis membawa gumpalan mint super dingin.

"Wahh.. tubuhku terasa sangat segar dan memancarkan kilau bercahaya!" sorak Nola melonjak gembira.

Busa mint bebas gula itu pun mengembalikan warna putih cemerlang pasukan istana mulut. 

Kisah kehidupan prajurit gigi istana mulut ini mengajarkan pentingnya merawat kebersihan tubuh. Kedisiplinan menjaga kesehatan sejak dini akan menjauhkan kita dari segala macam penyakit.

Selesai

Kamis, 13 Agustus 2026

Kisah Kakek Cipto dan Robot Galaxy di Kota Roda Gigi

Kisah Kakek Cipto dan Robot Galaxy di Kota Roda Gigi

Ilustrasi cat air kakek profesor merakit robot kecil bernama Gala di bengkelnya.

Waktu baca: 4 menit

Mata Lensa Tembus Pandang


Ceritasakti.com - Kota Roda Gigi telah sangat lama berdiri abadi megah, melampaui segala zaman.

Terlihat Kakek Cipto sibuk merakit bagian tubuh robot baru berteknologi canggih. Robot Galaxy duduk tenang menanti pembaruan sistemnya di atas meja kayu sang profesor.

"Kekuatan barumu akan sangat luar biasa, Galaxy" ucap Kakek Cipto tersenyum.

"Aku siap membantu semua orang, profesor" balas Galaxy antusias menganggukkan kepala besinya.

Tubuh besi Galaxy kini memiliki kecanggihan yang mengagumkan. Kakek Cipto memasang sepasang mata lensa pembesar terbaru. Mata lensa itu tembus pandang, bisa mengeluarkan sketsa bercahaya yang dapat melihat benda di balik tembok tebal. Galaxy kini bisa menemukan sekrup hilang berbekal pandangan ajaib tersebut.

Lengan Karet Super Lentur


Pembaruan berlanjut menuju kerangka lengan baja Galaxy. Kakek Cipto melepas engsel kaku pengait sendi-sendi robot mungil itu. Ia menggantinya menggunakan material karet super lentur tahan panas. Lengan fleksibel itu dapat memanjang memegang kaleng oli sejauh tiga meter.

Galaxy melompat kegirangan memamerkan kelenturan tubuhnya ke udara. Ia tidak perlu lagi menenteng kotak perkakas berat ke mana-mana. Badannya sendiri kini sudah menjadi alat serbaguna paling praktis.

"Lengan ini sangat hebat sekali!" seru Galaxy melingkarkan tangannya.

Pertunjukan Cahaya Kupu-Kupu


Bagian dada Galaxy kini memiliki lubang proyektor canggih. Lubang mesin tersebut menembakkan sorot cahaya terang membelah kegelapan ruangan. Bayangan kupu-kupu tiga dimensi muncul beterbangan memenuhi seisi bengkel profesor.

Galaxy menyentuh bayangan memukau tersebut perlahan-lahan. Ia menggerakkannya sesuka hati menghibur Kakek Cipto.

Kupu-kupu cahaya mengepakkan sayap melintasi udara kosong. Galaxy mengubah dinding kusam bengkel menjadi arena bermain menyenangkan. Kakek Cipto tertawa lepas menikmati pertunjukan proyektor internal tersebut. Suasana malam dingin berubah menjadi sangat hangat dan ceria seketika.

"Pertunjukan cahayamu sangat indah sekali, Nak," puji Kakek Cipto mengusap dada Galaxy.

"Ini khusus untuk menghiburmu malam ini, Profesor" sahut Galaxy memancarkan senyum khas robotnya.

Bintang Kebaikan di Langit Malam


Tahap terakhir adalah memasang pelindung inti chip memori. Kakek Cipto menanamkan pemindai khusus tepat di tengah retina mata Galaxy. Tidak ada satu pun pencuri bisa membuka brankas ingatan Galaxy. Hanya Kakek Cipto yang sanggup membuka sistem keamanan mutakhir tersebut.

Galaxy kini menjadi robot mungil paling hebat sekota Roda Gigi. Ia berlari keluar bengkel mencari teman-teman sesama robot setiap sore. Galaxy memproyeksikan bintang-bintang cahaya melayang di udara menghibur kawan-kawannya.

Kekuatan hebat tubuh barunya hanya dipakai menebar kebaikan tanpa pamrih. Dongeng pengantar tidur ini mengajarkan kita pentingnya ketulusan hati membantu sesama. Kebaikan akan selalu bersinar terang mengalahkan kegelapan malam.

Selesai

Rabu, 12 Agustus 2026

Kulepaskan Semua Dengan Ikhlas Bab 1 : Panas Surabaya dan Kerasnya Trotoar Jakarta

Kulepaskan Semua Dengan Ikhlas Bab 1 : Panas Surabaya dan Kerasnya Trotoar Jakarta

Ilustrasi seorang pemuda menggambar sketsa di trotoar jalanan jakarta

BAB 1

Panas Surabaya dan Kerasnya Trotoar Jakarta


Pecahan asbak kristal berserakan menghantam lantai pualam rumah mewah.


"Keluar dari rumah ini jika coretan sampah itu masih kau sebut masa depan!" Suara bariton Hari menggema keras, memantul menabrak pilar-pilar besar ruang keluarga.


Bima bergeming. Rahangnya mengeras kaku. Pemuda dua puluh tahun itu menatap tajam mata ayahnya tanpa sekelumit ketakutan. Penampilannya sangat kontras mencoret kemewahan ruangan itu. Rambut ikalnya gondrong tak beraturan, menutupi sebagian dahi. Kemeja flanel pudar membalut tubuh tegapnya. Tangan kanannya mengepal kuat di samping paha, menyembunyikan sisa noda grafit membekas hitam di sela jari-jarinya.


"Ayah selalu menilai segala hal dari sampulnya saja," balas Bima pelan. Suaranya dingin menusuk. "Kejaksaan mengajari Ayah cara memenjarakan penjahat. Apakah sekarang Ayah juga ingin memenjarakan anak di rumahnya sendiri."


Plakk!


Satu tamparan keras mendarat telak di pipi kiri Bima. Panas menjalar. Perih menyengat kulit. Namun Bima pantang menunduk. Matanya terus menantang pria paruh baya berseragam dinas rapi di hadapannya.


"Anak tidak tahu diuntung!" Napas Hari memburu cepat. Telunjuknya menuding tepat ke depan wajah Bima. "Fasilitas lengkap. Uang saku berlebih. Masa depan sudah kusiapkan rapi. Kamu malah memilih keluyuran bersama berandalan terminal! Membolos kuliah demi coretan mural tembok kumuh pinggir jalan itu!"


Bima hanya tersenyum sinis. Ujung ibu jarinya mengusap darah segar menetes dari sudut bibir. Ia membalikkan badan perlahan.


"Simpan semua fasilitas itu, Ayah. Bima muak."


Malam itu juga Bima mengemasi barang. Ransel kanvas kusam warna zaitun menjadi satu-satunya teman. Ia menolak membawa pakaian mahal berlabel desainer. Hanya beberapa helai kaus oblong, celana jins belel, kotak pensil arang, beserta sebuah buku sketsa tebal bersampul kulit imitasi. Kartu ATM premium gold pemberian ayahnya tergeletak begitu saja di atas meja belajar.


Langkah kakinya terlihat ringan saat menuruni tangga kayu jati ukiran mewah. Terdengar isak tangis tertahan dari balik pintu kamar ibunya. Langkah Bima sempat terhenti sejenak. Ada nyeri tiba-tiba menyelinap memukul dada kirinya. Namun tekadnya sudah bulat tak tergoyahkan. Surabaya terlalu sempit baginya. Bayang-bayang kebesaran nama sang ayah selalu mencekik lehernya setiap kali melangkah keluar pagar rumah. Ia butuh udara segar. Ia butuh kebebasan mutlak. Tanpa kekang. Tanpa aturan formal.


Stasiun Gubeng menyambutnya menjelang tengah malam itu. Udara dingin mulai menusuk tulang. Kereta ekonomi tujuan Jakarta membunyikan peluit panjang memecah keheningan. Bima melangkah naik melewati pintu gerbong berkarat. Duduk menyudut di dekat jendela kaca kusam, ia menatap deretan lampu kota bergerak mundur perlahan sirna ditelan gelap.


Roda besi bergesekan menggosok rel menghasilkan irama monoton. Ingatan Bima melayang mundur menelusuri masa kecilnya. Rumah mewah bertingkat tiga. Deretan mobil Eropa. Sopir pribadi berseragam. Deretan guru les privat bergantian mendatangi rumah. Semua fasilitas itu terasa palsu. Ia membenci kemunafikan dunia kelas atas itu.


Bima cilik lebih sering melarikan diri, memanjat melompati tembok belakang kompleks perumahan elite mereka. Bergabung bersama anak-anak kampung pinggiran bantaran sungai. Mencuri waktu bolos sekolah hanya untuk menonton film aksi di bioskop tua berbau pesing. Di sana, di tengah kepulan asap rokok penonton ber-tiket kelas ekonomi, Bima justru menemukan kejujuran. Mereka tertawa lepas tanpa perlu menjaga wibawa.


Kini, gerbong kereta besi ini membawanya menjauh pergi. Menuju ibu kota. Tanpa rencana matang. Tanpa bodyguard bayaran ayahnya.


Dua belas jam berselang, Jakarta menyambutnya dengan tamparan panas matahari siang. Stasiun Pasar Senen riuh rendah memekakkan telinga. Suara klakson mikrolet bersahutan, teriakan parau kuli panggul berebut penumpang, aroma keringat masam bercampur debu aspal langsung menyergap hidungnya. Bima berdiri tegak di lobi luar depan stasiun. Ia menghirup udara berpolusi itu dalam-dalam hingga memenuhi paru-parunya.


Inilah aroma kebebasan.


Namun, kebebasan yang dikejarnya ternyata mematok harga sangat mahal.


Minggu-minggu pertama terlewati layaknya simulasi neraka. Uang saku di dompet kulitnya menyusut drastis hanya dalam hitungan hari. Bima harus menelan pahitnya realita. Tidurnya berpindah-pindah percis gelandangan sejati. Dari emperan toko kelontong tutup, bangku semen taman kota, hingga meringkuk kedinginan di sudut halte busway. Perutnya sering berbunyi nyaring menahan perihnya lapar. Terkadang ia hanya sanggup membeli sebungkus mi instan mentah untuk digigit sedikit demi sedikit sepanjang hari.


Ego prianya menahan jemarinya menghubungi keluarga di Surabaya. Pulang berarti kalah. Menyerah berarti mengakui kebenaran mutlak kata-kata ayahnya. Dan Bima menolak kalah.


Tubuhnya makin mengurus. Tulang pipinya menonjol tegas. Kulit terangnya kini terbakar terik matahari berubah menjadi kecokelatan kusam. Rambut ikalnya memanjang liar tak terurus menyentuh kerah baju. Namun, sorot matanya justru menyala lebih terang. Di tengah kerasnya aspal Jakarta, insting bertahan hidupnya bangkit berontak.


Sore itu, di sudut kawasan Kota Tua, Bima menggelar tikar plastik UV tipis hasil memulung di belakang pasar. Ransel bututnya menjadi penyangga buku sketsa. Ia mengeluarkan selusin pensil arang kesayangannya. Jari-jarinya mulai menari lincah di atas kertas putih bersih.


Objek pertamanya sore itu adalah sebuah gedung kolonial tua peninggalan Belanda di seberang jalan. Garis demi garis tercipta tegas penuh percaya diri. Arsirannya sangat detail, sukses menangkap bayangan dramatis matahari senja di sela-sela jendela usang.


Seorang wisatawan dari luar Jakarta berhenti melangkah. Pria paruh baya bertopi fedora itu memperhatikan lukisan Bima lekat-lekat.


"Berapa harga lukisan wajah, Mas?" tanya pria itu menunjuk kertas kosong.


Bima mendongak. Jakunnya turun naik menelan ludah.


"Terserah Bapak. Seikhlasnya saja Pak."


Tangan Bima kembali bergerak cepat bak mesin cetak. Matanya menatap wajah keriput pria itu bergantian menuju media kertasnya. Fokusnya tajam. Ia mengabaikan perutnya meronta minta diisi. Hanya butuh waktu lima belas menit. Sketsa wajah berkarakter selesai sempurna. Guratan lelah pada mata pria itu berhasil ia tangkap paripurna lewat arsiran pensil 12B.


Pria itu tersenyum puas, mengangguk pelan, meletakkan selembar uang lima puluh ribu di atas tikar Bima.


Lima puluh ribu pertama dari keringatnya sendiri.


Bima menatap lembaran uang berwarna biru itu lama sekali. Ada kebanggaan luar biasa meletup-letup di dadanya. Di Surabaya dulu, uang nominal sekecil ini hanya cukup untuk membayar parkir valet kafe mewah. Di sini, di atas trotoar berdebu ini, lima puluh ribu adalah penyambung nyawa. Lembaran ini adalah bukti ia mampu berdiri di atas kakinya sendiri.


Sejak hari itu, sudut pelataran Kota Tua resmi menjadi rumah keduanya. Debu jalanan, asap knalpot pekat, bising alat musik pengamen jalanan menjadi simfoni pengiring kesehariannya. Pelanggannya kian beragam. Mulai mahasiswa mencari kado murah, pasangan kekasih merayakan hari jadi, turis asing penasaran, hingga pekerja kantoran yang lewat mencari hiburan sore.


Terkadang, ritme tenangnya harus pecah seketika. Bima harus tergesa-gesa membereskan lapaknya lalu berlari kencang saat petugas ketertiban kota mendadak datang merazia. Kaki beralas sandal jepit tipisnya sering tak sengaja menginjak pecahan beling. Napasnya tersengal kala bersembunyi di balik tumpukan kardus gang sempit.


Anehnya, malah tawanya selalu pecah setiap kali petugas razia pergi berlalu.


Ia menikmati setiap detik penderitaan itu. Tidak ada lagi aturan ketat menjaga tata krama keluarga. Tidak ada lagi tuntutan memaksa senyum palsu demi menjaga nama baik reputasi ayahnya. Di atas aspal mendidih itu, Bima bukan lagi anak emas pejabat tinggi kejaksaan. Ia telah membunuh identitas itu.


Ia kini hanya Bima. Sang pelukis jalanan. Penjual goresan pensil arang pencari kebebasan sejati. Kota ini perlahan mulai memeluknya, meski dengan pelukan penuh duri.


Sore itu, langit Jakarta memerah tembaga. Sepasang sepatu kanvas putih bertuliskan Adidas berhenti tepat di ujung tikar plastiknya. Aroma parfum jasmine samar menguat menembus pekatnya asap knalpot.


Bima mendongak. Matanya terpaku. Di balik siluet senja, seorang gadis menatapnya lekat. Senyum manis terukir di wajahnya.


Bima belum menyadari satu hal yang akan mengubah jalan hidupnya. Senyum manis itulah kelak membawanya terbang menyentuh surga terindah. Sekaligus menyeretnya jatuh membentur dasar neraka paling hina.


Bersambung...ke Bab 2

Dongeng Anak Sebelum Tidur Kisah Perselisihan Nasi di Kerajaan Panci

Dongeng Anak Sebelum Tidur Kisah Perselisihan Nasi di Kerajaan Panci

Ilustrasi cat air ibu menuangkan tetesan jeruk lemon ke dalam panci nasi disaksikan anak laki-lakinya di dapur yang hangat.

Keributan di Kerajaan Panci


Ceritasakti.com - Kerajaan Panci Hangat berdiri kokoh di atas meja dapur. Permukaannya mengkilap memantulkan cahaya lampu ruangan. Ribuan butir nasi terbaring di dalamnya menanti waktu makan tiba. Bulo adalah sebutir nasi putih paling montok.


Ia membanggakan tubuhnya tanpa henti sejak pagi. Bulo merasa menjadi butir paling bersih sekawasan panci. Ia baru saja melewati air terjun pencucian raksasa tiga kali berturut-turut. Kotoran debu sudah musnah total dari permukaan tubuhnya.


Bulo melompat-lompat kecil memamerkan kelenturan badannya. Teman-teman di sekelilingnya berdecak kagum melihat pesona Bulo. Kulitnya memancarkan kilau mutiara menawan hati.


Di sudut terjauh dinding panci bersuhu panas, Kibu sebutir nasi kering kusam merengut kesal. Tubuh Kibu mulai berubah menguning kecokelatan. Kulitnya terasa sangat kaku akibat kekurangan cairan. Kibu menempel erat pada dinding logam bersuhu tinggi.


Ia tidak sanggup melepaskan diri dari hisapan logam panas tersebut.


"Tutup mulutmu, Bulo! Kau hanya beruntung berada di tengah kumpulan."


Kibu berseru meluapkan amarah memendam hawa marah. Ia merasa dibiarkan menderita sendirian sejak alat masak itu menyala. Bulo tertawa pelan menanggapi kemarahan temannya itu. Ia justru makin menggoyangkan tubuh kenyalnya mengejek Kibu.


"Ibu Raksasa sangat menyayangiku. Ia sengaja menaruhku tepat di pusat kerajaan."


Ucap Bulo membusungkan dada penuh kesombongan. Kibu memalingkan wajah memendam kekesalan memuncak hingga ubun-ubun. Perselisihan kedua butir nasi itu memecah ketenangan seluruh penghuni panci.


Butir-butir nasi lain mulai ikut berteriak membela kubu masing-masing. Suhu ruangan mendadak terasa makin menyengat membakar kulit.


Tetesan Embun Ajaib


Suara dengungan mesin penanak mendadak mati. Langit besi di atas mereka tiba-tiba terbuka lebar berderit nyaring. Cahaya terang menyilaukan menerobos masuk menyapu kegelapan sudut kerumunan.


Hawa sejuk mengalir seketika meredam kepanasan para butiran. Semua penghuni terdiam membisu menatap kemunculan sosok pemilik dapur. Ibu Raksasa menatap ke dalam kerajaannya membawa sebuah benda bulat.


Benda berkulit kuning terang itu memancarkan aroma tajam menyegarkan. Tangannya memeras buah tersebut tepat di atas pusaran tumpukan. Setetes embun asam jatuh menetes perlahan.


Tetesan itu mendarat tepat di atas kepala Bulo. Aroma jeruk lemon segera menyebar menenangkan seisi ruangan sempit tersebut. Bulo merasakan kulitnya makin bersinar putih bersih sempurna.


Tetesan asam itu rupanya merupakan pelindung ajaib penangkal kebasian. Butiran lain ikut menyerap sisa kesegaran embun ajaib tersebut perlahan-lahan. Kini tidak ada sedikit pun bau apek mengganggu pernapasan mereka. Udara panci berubah bersih layaknya suasana pagi hari di pegunungan.


"Rasanya sangat menyegarkan badanku. Tubuhku tidak lemas lagi."


Bisik Bulo memejamkan mata menikmati sensasi dingin tetesan ajaib. Kesombongannya luntur seketika digantikan rasa syukur luar biasa. Ia menyadari keindahan tubuhnya berasal murni dari pemberian Ibu Raksasa.


Ayunan Dayung Raksasa


Ibu Raksasa ternyata belum selesai membagikan keajaiban hari itu. Sebuah dayung kayu raksasa meluncur deras menembus lautan beras putih. Dayung itu bergerak memutar cepat mengaduk seluruh isi kerajaan. Dinding logam panas tergesek memicu suara berderak keras.


Tubuh Kibu terangkat terbang bebas terlepas dari hisapan dinding pemanas. Ia berputar-putar di udara mendarat mulus berdampingan bersama Bulo. Posisi seluruh warga Kerajaan Panci bertukar letak secara merata.


Ayunan dayung raksasa meratakan sisa uap air membasahi sudut-sudut kering. Kibu merasakan air menyerap cepat meresap membasahi kulit kakunya. Tubuhnya berangsur mengembang kenyal menyerap hawa sejuk bagian tengah panci.


Warnanya perlahan memutih bersih menyerupai bentuk sempurna Bulo.


"Aku bisa bernapas lega sekarang. Bebanku sudah hilang sepenuhnya."


Sorak Kibu melonjak penuh kegembiraan melupakan seluruh amarahnya. Bulo tersenyum hangat menyambut penampilan baru temannya. Mereka berdua kini berjejer rapi menunggu kedatangan waktu makan malam.


Perselisihan sengit tadi lenyap tak berbekas tergantikan gelak tawa. Ibu Raksasa kembali menutup rapat langit besi pelindung wadah tersebut. Suara langkah kaki berderap terdengar mendekati area meja makan. Ternyata Dongeng pengantar tidur ini terjadi tepat di ruangan dapur Ibu raksasa tadi.


Lalu, seorang anak kecil duduk manis membawa piring porselen bergambar kelinci. Wajahnya berseri-seri menahan lapar sepulang bermain berlarian seharian penuh. Langit besi kerajaan kembali terbuka melepas uap hangat tebal beraroma wangi.


Dayung kayu besar perlahan mengangkat tubuh Bulo beserta Kibu bersama-sama. Keduanya meluncur mulus tanpa suara mendarat di atas permukaan piring. Uap hangat mengepul tipis membumbung menari-nari melayang di udara.


Aroma segar perasan lemon samar-samar memenuhi seisi ruang makan. Kelopak mata anak laki-laki itu mengerjap pelan merasakan kehangatan menyelimuti wajahnya.


Mulut kecil anak itu melahap habis butir Bulo sekaligus Kibu tanpa sisa. Pengorbanan kedua butiran tersebut menjadi sumber energi kehidupan si anak laki-laki itu.


Kepergian Bulo dan Kibu sama sekali tidak pernah berakhir sia-sia. Keikhlasan mengorbankan diri sendiri demi kelangsungan hidup sesama makhluk ciptaan Tuhan merupakan bentuk bakti tertinggi di alam semesta ini.


Selesai

Kisah Kakek Pertapa dan Telur Emas Raksasa

Kisah Kakek Pertapa dan Telur Emas Raksasa

Telur Raksasa Pegar Emas


Ceritasakti.com - Hutan Berkabut menyimpan misteri kuno tersembunyi. Pepohonan raksasa tumbuh menjulang menutupi cahaya matahari. Warga Desa Pualam hidup terisolasi di tengah-tengah pelukan alam liar tersebut.


Mereka menggantungkan nasib pada hasil buruan hutan. Fisik penduduk perlahan melemah termakan usia. Berbagai penyakit aneh mulai menyerang tubuh rapuh mereka secara bergantian.


Kepala Desa Marata terbaring lemah di ranjang bambunya. Ia sedang menderita penyakit kronis bersarang di dalam perutnya. Tubuhnya kurus kering kehilangan seluruh tenaganya.


Suatu pagi berkabut, para pemburu menemukan sebuah keajaiban. Sebuah sarang burung raksasa tersembunyi di balik semak berduri tajam. Sebutir telur berukuran setinggi manusia dewasa tergeletak begitu saja, seluruh kulit telur memancarkan kilau keemasan.


Penduduk desa lalu bergotong-royong memikul benda temuan itu menuju desa. Mereka meyakini benda itu milik burung mitologi Pegar Emas. Burung legendaris itu konon selalu meninggalkan anugerah bagi manusia berhati suci.


Warga memecahkan cangkang keras telur tersebut menggunakan batu kali. Cairan keemasan kental mengalir deras memenuhi kendi-kendi tanah liat. Mereka berebut meminum bagian kuning keemasan itu karena tergiur warnanya.


Kuning telur raksasa itu memang terasa sangat lezat di lidah. Warga mengonsumsinya secara berlebihan tanpa henti-hentinya. Tubuh mereka membesar berubah menjadi sangat tambun.


Selama berhari-hari rasa kantuk luar biasa menyerang penduduk desa yang minum cairan telur ajaib itu. Aliran darah mereka tersumbat oleh tumpukan lemak jahat. Kuning telur raksasa itu rupanya menyimpan vitamin berlebih untuk tubuh manusia biasa.


Mereka meninggalkan sisa cairan telur begitu saja. Cairan bening kental tak berwarna tergenang terabaikan di dalam pecahan cangkang gerabah. Tak satupun warga sudi menyentuh cairan pucat tersebut lagi.


Ramuan Ajaib Tabib Tua


Kakek Pertapa duduk termenung menatap sisa genangan telur tersebut. Tabib tua desa itu merasakan energi murni memancar dari sana. Ia mencedok cairan bening kental itu menggunakan mangkuk kayu jati.


Tekstur cairan itu terasa sangat ringan. Aroma segar menguar lembut menembus indra penciumannya. Kakek Pertapa lalu merebus sisa genangan pucat itu hingga berubah wujud menjadi gumpalan putih empuk.


Ia mencicipi sesendok kecil hasil rebusannya. Tidak ada rasa aneh menghantam tenggorokannya. Cairan bening matang ini benar-benar bersih dari endapan jahat yang melemahkan tubuh.


Tabib itu kemudian segera meracik ramuan baru bermodalkan gumpalan putih tersebut. Target pasien pertamanya terpikir pada Kepala Desa Marata. Ia pergi ke rumah kepala desa, menyuapkan gumpalan putih itu secara rutin setiap matahari terbit.


Keajaiban terjadi pada hari ketujuh. Sel-sel jahat yang bersembunyi dalam perut sang kepala desa perlahan melemas. Racun mematikan dalam tubuhnya luruh dan tergantikan oleh energi kehidupan baru.


Kakek Pertapa pun mulai membagikan racikan cairan bening itu kepada warga lain di desa. Kanu menelan semangkuk penuh rebusan ajaib itu sepulang berburu. Pemuda kurus kering itu tiba-tiba merasakan aliran tenaga luar biasa.


Otot-otot lengannya membesar padat membentuk lekukan kuat. Tulang rusuknya tak lagi menonjol di balik kulit tipisnya. Ia kini sanggup memikul seekor rusa dewasa sendirian sambil berlari menembus hutan.


Nenek Kasmi menerima jatah semangkuk cairan bening setiap petang hari. Punggung bungkuk perempuan tua itu perlahan tegak kembali. Tulang-tulang rapuhnya memadat menyerap kalsium murni dari ramuan Kakek Pertapa.


Garis-garis keriput di wajah Nenek Kasmi memudar perlahan. Kulit keriputnya kembali kenyal seperti kulit remaja. Ia tampak sepuluh tahun lebih muda berkat khasiat rahasia cairan bening tersebut.


Keajaiban Menyebar ke Penjuru Desa


Berita tentang khasiat ajaib cairan bening menyebar secepat hembusan angin. Warga desa tak lagi memperebutkan cairan kuning keemasan penyebab kantuk itu lagi. Mereka beralih mengantre di depan gubuk Kakek Pertapa setiap pagi.


Gumpalan putih telur raksasa itu kini menjadi menu sarapan wajib bagi warga. Teksturnya sangat ringan memanjakan lambung. Penduduk sanggup bekerja seharian tanpa merasa kelelahan sedikitpun.


Anak-anak desa berwajah pucat kini berlarian riang gembira. Zat besi murni dari ramuan tabib mengalir deras dalam darah mereka. Rona merah segar menghiasi kedua belah pipi anak-anak desa tersebut.


Ki Jagabaya juga datang menemui Kakek Pertapa dengan langkah gontainya. Aparat penjaga desa itu menderita penyakit sulit tidur berbulan-bulan lamanya. Kantung matanya sampai menghitam legam persis seperti arang kayu bakar.


Tabib tua itu menyodorkan segelas penuh cairan bening hangat. Ki Jagabaya meneguknya dengan rakus hingga tak tersisa setetes pun. Sesuatu keajaiban alami dari ramuan itu langsung merayap menuju kepala sang penjaga desa.


Saraf-saraf tubuhnya mengendur seketika merespons cairan ajaib tersebut. Urat lehernya melemas. Di gubuk tabib, Ki Jagabaya pun bisa tertidur lelap mendengkur keras di atas dipan kayu.


Para penenun kain kembali bekerja penuh semangat dan ketelitian. Tangan gemetar mereka kembali cekatan berkat asupan nutrisi dari ramuan telur ajaib Kakek Pertapa. Kualitas kain tenun Desa Pualam meningkat sempurna.


Penyakit mematikan tak pernah lagi sudi mampir menyapa warga desa. Keluhan tulang nyeri lenyap tak berbekas tergantikan oleh tawa riang. Desa Pualam menjelma menjadi wilayah paling makmur di seluruh daratan itu.


Sisa cangkang telur emas raksasa tergeletak membisu di tengah alun-alun desa. Kilau keemasannya memantulkan cahaya silau bulan purnama. Gumpalan awan bergeser pelan menutupi rasi bintang di atas langit Desa Pualam.


Pemuda Kanu terlihat sedang mengangkat bongkahan batu besar menembus kabut pagi. Otot lengannya berkilat memantulkan cahaya matahari terbit. Kakek Pertapa merasa gembira melihat seluruh penduduk Desa Marata sehat dan bugar. Ia kembali menatap cairan bening dalam kuali tanah liat di tangannya lalu tersenyum bahagia.


Selesai

Selasa, 11 Agustus 2026

Kisah Zaid Saat Cahaya Purnama Bersinar di Langit Rabiul Awal

Kisah Zaid Saat Cahaya Purnama Bersinar di Langit Rabiul Awal

Ilustrasi seorang kakek bijak menggandeng cucunya menyusuri desa barkah di malam hari berhiaskan cahaya lentera.


Ringkasan Cerita:

  • Kemeriahan Desa Barkah: Zaid takjub melihat kesibukan penduduk desa menyambut datangnya bulan Rabiul Awal.
  • Penjelasan Sang Kakek: Kakek Hasan mengisahkan alasan di balik nyala tungku api serta gema puji-pujian malam itu.
  • Harmoni Silaturahmi: Perayaan tersebut menyatukan seluruh penduduk membagikan sedekah tanpa memandang rupa.


Semerbak Rempah di Udara Malam


Ceritasakti.com - Malam turun menyelimuti Desa Barkah secara perlahan. Cahaya obor menari-nari menembus celah jendela kayu perumahan penduduk. Angin gurun berhembus pelan membawa semerbak aroma rempah-rempah masakan.


Zaid menatap takjub kesibukan di luar rumahnya. Penduduk desa hilir mudik membawa nampan-nampan tembaga berukuran besar. Gema puji-pujian bertalu-talu memecah sunyi malam.


Di langit, bulan purnama menggantung bulat sempurna tepat di atas menara batu. Pemandangan magis tersebut menyita seluruh perhatian pemuda kecil itu. Ia bertanya-tanya apa gerangan alasan di balik kemeriahan mendadak itu.


Kakek Hasan menepuk pelan pundak cucunya. Pria tua itu menunjuk arah langit malam bertabur rasi bintang. Ia mengisahkan sebuah malam bersejarah berabad-abad silam.


Gema Kerinduan Kepada Utusan Suci


"Ini bukan sekadar perayaan biasa, Zaid."


"Kita sedang menyambut hari kedua belas Rabiul Awal."


"Malam kelahiran sang pembawa risalah dari langit untuk bumi ini."


Mereka berdua melangkah keluar menyusuri gang berbatu. Telinga Zaid menangkap lantunan shalawat bersahutan tiada henti-hentinya. Di dalam setiap bilik rumah menyenandungkan kerinduan ikhlas kepada utusan suci.


Suara merdu tersebut menggetarkan relung hati yang mendengarnya. Ribuan untaian doa meluncur bebas menembus cakrawala. Penduduk menumpahkan seluruh rasa syukur mereka yang sulit digambarkan dengan kata-kata.


Di pelataran depan masjid utama, tungku-tungku api menyala sangat terang. Para pemuda desa bahu-membahu membagikan roti gandum hangat. Wajah lelah para musafir berubah semringah menerima bingkisan sedekah itu.


Lingkaran Persaudaraan


Tak satupun penduduk dibiarkan menahan lapar malam itu. Aroma daging panggang berbaur wangi gaharu memenuhi setiap sudut jalan di Desa Barkah. Tradisi berbagi ini telah mengakar kuat sejak jaman nenek moyang mereka.


Kakek Hasan membimbing Zaid mendekati pelataran tengah. Seorang pria paruh baya tengah mengisahkan keteladanan sang rasulullah. Suaranya lantang menyihir perhatian seluruh pasang mata di depannya.


Ratusan penduduk Desa Barkah duduk bersila merapatkan barisan tanpa jarak. Ikatan persaudaraan menguat mengikat erat setiap jiwa yang hadir malam itu. Mereka melebur menjadi satu kesatuan utuh menghapus batas kasta sosial.


Zaid menatap wajah kakeknya seraya tersenyum simpul. Bibir kecilnya perlahan ikut bergumam melantunkan bait-bait shalawat.


Asap tungku perapian mengepul membubung tinggi menembus awan. Lantunan puji-pujian desa tersebut terus bergema sepanjang malam hingga menyambut fajar menyingsing di ufuk timur.


Selesai