BAB 2
Cahaya Matahari di Sudut Kota Tua
Gadis itu mendudukkan diri di atas kursi lipat kayu milik Bima. Sikapnya sama sekali tidak canggung. Suaranya terdengar renyah mengalahkan bising hiruk-pikuk pengunjung di sekeliling mereka.
"Tolong buat wajah saya terlihat sedikit lebih ceria ya, Mas," pintanya sedikit centil.
Tangannya bergerak merapikan helai rambut yang jatuh menutupi dahi.
Bima tersenyum tipis. Jarinya memegang erat batang pensil arang. Matanya menatap tajam lekuk wajah di hadapannya. Alis tipis melengkung indah. Mata bulat berbinar-binar. Lesung pipit kecil mencuat di pipi kiri setiap kali bibirnya menyunggingkan senyum.
Arang hitam mulai menari lincah di atas kertas sketsa. Bima mulai mengarsir perlahan bias bayang senja dari wajah gadis itu. Tarikan garisnya sangat tegas dan spontan.
"Wajah asli Mbak sudah cukup ceria", pancing Bima memulai perbincangan sore itu. Matanya melirik sejenak dari balik kertas.
Gadis itu tertawa pelan. Matanya menyipit menatap balik mas pelukis.
"Ya.. Berarti Mas pelukis tidak perlu capek-capek sore ini," balasnya santai. Tangannya bertumpu pada lutut, mencondongkan badan sedikit ke depan mengintip proses menggambar.
Bima menajamkan pandangan. Fokusnya berpindah bergantian dari mata sang gadis menuju kertas sket. Garis rahang mulai terbentuk sempurna. Arsirannya makin rapat menangkap siluet cahaya mentari senja di wajah pelanggan istimewanya ini.
"Mbak, Saya harus menuliskan sebuah nama di sudut sketsa ini. Syarat wajib hasil karya saya," karang Bima lancar, memancing sebuah nama.
Gadis itu memiringkan kepalanya sedikit. Alis kanannya terangkat naik terperanjat kaget.
"Ah, masa? Pelanggan sebelum saya tadi, tidak ditanya nama sama sekali. Saya memperhatikannya loh dari seberang jalan."
Bima tersenyum sedikit melebar. Taktiknya terbongkar terlalu cepat. Ia menghentikan goresan pensinya sejenak, membalas tatapan gadis itu dalam-dalam.
"Saya memberikan perlakuan khusus untuk pelanggan berlesung pipit seperti, Mbak" sahut Bima pantang menyerah. Nada suaranya terdengar rendah, tapi sarat rasa percaya diri khas seorang pemuda jalanan.
Semburat merah tipis menjalar di kedua pipi gadis itu. Gugup sudah pasti. Ia memalingkan wajah menatap deretan gedung kolonial tua di seberang jalan, menyembunyikan salah tingkahnya. Jemarinya memuntir-muntir ujung tali tas bahunya.
"Tulis saja Wanda," ucapnya pelan. Wajahnya kembali menatap Bima, kali ini disertai senyum paling manis sekota jakarta.
"Nama yang bagus. Sangat pas bersanding dengan senyuman sore ini," puji Bima tulus.
Tidak ada kebohongan dalam pujian itu. Bima kembali menunduk. Tangannya bergerak cepat bak mesin cetak. Ia menangkap kilau mata Wanda memantulkan pendar sinar senja. Guratan pensil Joyko itu selesai sempurna hanya dalam belasan menit.
"Sudah selesai," ujar Bima mengulurkan lembaran kertas lukis tersebut.
Wanda menerima hasil karya Bima. Matanya membelalak kagum. Tangannya mengelus permukaan kertas penuh kehati-hatian. Garis arang itu tidak sekadar menyalin wajahnya, melainkan menangkap aura di dalam dirinya.
"Indah sekali. Garis arangnya terasa hidup," puji Wanda bersungguh-sungguh. "Kamu punya bakat luar biasa, Mas."
Ia membuka resleting tas bahunya, mengambil beberapa lembar uang kertas. Wanda tidak meletakkannya di atas tikar, melainkan menyodorkannya langsung ke genggaman telapak tangan kasar Bima.
"Terima kasih banyak, Mas pelukis. Namaku Wanda. Kamu?"
"Bima."
"Sampai jumpa lagi, Bima."
Gadis itu berdiri. Langkah kakinya bergerak menjauh membaur di antara kerumunan pengunjung. Bima memperhatikan punggungnya menyusut hingga sirna di balik deretan gedung tua. Ada getaran spektrum aneh menetap di rongga dadanya. Sore itu, lembaran uang pemberian Wanda terasa sangat berbeda. Bima melipatnya rapi, memasukkannya ke saku kemeja paling dalam.
Satu minggu berlalu sangat lambat. Bima menjalani harinya seperti biasa. Ia mengawali pagi memanggul karung beras di pasar, lalu bersiap melukis menjelang siang hari.
Matahari sedang terik-teriknya memanggang ubun-ubun. Bima berjalan menyusuri trotoar berdebu menuju tempat biasa ia menggelar lapak. Ransel kanvas kusam menempel berat di punggung. Tangannya menjepit erat sebuah papan kayu lukis.
Langkah kaki Bima terhenti di tepi persimpangan jalan raya sangat ramai. Lampu lalu lintas berganti warna merah. Pejalan kaki berbondong-bondong mulai menyeberang.
Di antara kerumunan manusia berlalu-lalang itu, Bima menangkap sosok familier. Kemeja putih kotak-kotak. Celana jin biru terang. Tas bahu cokelat. Itu Wanda. Gadis itu sedang menyeberang melangkah santai.
Petaka terjadi sangat cepat. Hitungan detik mengubah suasana tenang menjadi jerit kepanikan.
Suara deru mesin melengking nyaring dari arah kanan. Sebuah sepeda motor melaju ugal-ugalan menerobos lampu merah. Pengendaranya panik melihat barisan manusia di tengah jalan, berusaha mengerem mendadak memutar setir ke arah kiri.
Ciiiiiiiiiit! Bruaakk!!
Suara decitan ban bergesekan keras diatas aspal mendidih. Bodi besi motor menyenggol keras pinggul Wanda. Gadis itu terpental. Tubuhnya jatuh tersungkur membentur aspal jalanan. Pengendara motor itu juga nyaris terjatuh, tapi segera menancap gas kabur melarikan diri menyisakan kepulan asap.
"Aduhh!" jerit Wanda memekik tertahan. Tangannya memegangi kaki kirinya.
Bima melepaskan papan lukisnya begitu saja ke atas trotoar. Alat lukisnya berserakan berhamburan ke selokan. Ia sama sekali tidak peduli. Kakinya berlari kencang menerobos kerumunan orang menyeberangi jalan. Jantungnya berdegup kencang.
"Mbak, tidak apa-apa?" teriak seorang warga panik berkerumun.
Bima membelah paksa kerumunan tersebut. Matanya membelalak lebar melihat Wanda meringkuk memegangi pergelangan kakinya. Wajah gadis itu pucat pasi. Keringat dingin sebesar biji jagung membasahi pelipisnya.
"Wanda!" panggil Bima refleks menjatuhkan kedua lututnya ke aspal panas.
Wanda mendongak. Matanya berkaca-kaca menahan sakit luar biasa. Napasnya tersengal-sengal menahan tangis.
"Mas pelukis... kaki saya sakit sekali. Tidak bisa digerakkan," rintih Wanda mencengkeram lengan kemeja kusam Bima.
Bima menatap pergelangan kaki kiri gadis itu. Membengkak membiru. Posisinya sedikit janggal. Cedera tulang. Insting menolong Bima mengambil alih. Ia tidak membuang waktu satu detik pun.
"Tahan sebentar. Tarik napas dalam-dalam. Kita ke klinik sekarang," ujar Bima tegas. Suaranya memberi ketenangan luar biasa meredam kepanikan Wanda.
Bima menyelipkan lengan kirinya ke bawah lipatan lutut Wanda. Lengan kanannya menopang punggung gadis itu. Ia merengkuh tubuh Wanda perlahan, mengangkatnya kuat-kuat ke dalam pelukan. Aroma parfum jasmine kembali menyergap hidungnya, kali ini bercampur aroma debu jalanan.
Bima memapah Wanda menembus kerumunan. Ia berdiri di tepi jalan, melambaikan tangan menghentikan sebuah taksi biru yang melintas. Ia membaringkan Wanda perlahan di kursi belakang, menyusul duduk di samping gadis itu.
Taksi melaju membelah kemacetan ibu kota. Wanda meringis kesakitan sepanjang perjalanan. Kepalanya tersandar lemas di bahu Bima. Pria itu membiarkan kemejanya basah oleh air mata sang gadis.
Aroma cairan antiseptik menyengat tajam rongga hidung. Ruang gawat darurat klinik setempat terasa sangat dingin menusuk tulang.
Bima berdiri tegap bersandar pada dinding di samping ranjang periksa. Matanya menatap cemas ke arah dokter paruh baya yang sedang membebat kaki kiri Wanda.
"Ada keretakan kecil di tulang betis bawah. Beruntung lukanya tidak parah sampai merobek daging," jelas dokter merapikan peralatannya. "Gips ini harus terpasang beberapa minggu. Jangan dipaksa berjalan."
Wanda mengangguk pelan. Wajahnya masih menyisakan rona pucat. Setelah dokter berlalu pergi, ia menatap Bima berdiri canggung di sudut ruangan. Baju pria itu kotor terkena noda lumpur jalanan. Keringat membasahi seluruh wajahnya.
"Mas, maafkan saya. Kamu jadi repot. Peralatan melukismu pasti tertinggal hilang di pinggir jalan tadi," ucap Wanda serak. Matanya memancar rasa bersalah teramat besar.
Bima hanya menggeleng pelan. Ia melangkah mendekati ranjang, menarik kursi plastik, duduk tepat di samping Wanda.
"Peralatan melukis itu bisa kucari ulang besok pagi. Nyawamu lebih penting. Berhentilah meminta maaf."
Wanda menatap balutan gips di kakinya. "Biaya kliniknya pasti mahal. Dompetku tertinggal di salon."
"Sudah aku lunasi di depan tadi kok.. Kamu cukup fokus beristirahat memulihkan kakimu."
Wanda menatap Bima seakan tak percaya. Ia tahu persis kehidupan pelukis jalanan. Nominal tagihan klinik itu setara dengan berminggu-minggu penghasilan melukis di trotoar. Pasti Bima baru saja menguras habis seluruh uang simpanannya.
"Aku akan mengganti semua uangmu, Mas. Aku berjanji," bisik Wanda penuh salah.
Bima hanya membalasnya lewat sebuah senyuman tipis. Uang bukan masalah baginya. Menyaksikan gadis ini selamat saja ia sudah bisa bernapas lega.
Sore menjelang malam, Bima mengantar Wanda pulang menaiki taksi. Alamat tujuan mengarah ke kawasan pemukiman asri Jakarta Pusat.
Taksi berhenti di depan sebuah rumah berhalaman luas. Bima memapah Wanda keluar dari kendaraan. Orang tua Wanda segera berlari keluar rumah menyambut kedatangan putri mereka penuh kepanikan.
Ibu Wanda menangis memeluk putrinya. Ayah Wanda menatap Bima penuh rasa terima kasih. Mereka mempersilakan Bima masuk ke dalam rumah. Ruang tamu itu dihiasi perabotan kelas menengah. Lampu gantung kristal memancarkan cahaya kekuningan itu khas rumah orang berada.
Keluarga Wanda berasal dari kalangan diatas sederhana, orangtuanya asli ibu kota. Ayah Wanda memiliki usaha jasa ekspedisi kargo. Kemewahan ini terasa tidak asing bagi Bima. Pemandangan ini mengingatkannya pada rumah masa kecilnya di Surabaya. Rumah tempat ayahnya dulu sering membentaknya setiap malam. Tapi Bima cepat-cepat mengubur memori buruk itu dalam-dalam.
Bima menolak halus tawaran makan malam keluarga tersebut. Ia memilih pamit undur diri kembali ke jalanan gelap Jakarta.
Hari-hari berikutnya menjadi awal babak baru kehidupan Bima.
Setiap pagi sebelum memulai lapak lukisan, ia menyempatkan diri datang menjenguk Wanda. Kadang ia berkunjung ke rumah Wanda. Kadang ia mendatangi bangunan ruko kecil tempat Wanda merintis bisnis salon kecantikannya.
Tembok pembatas akibat perbedaan kasta sosial perlahan runtuh. Orang tua Wanda menyambut Bima sangat ramah. Mereka tidak mempermasalahkan penampilan kumal Bima. Mereka murni mengagumi ketulusan pria jalanan itu menyelamatkan nyawa putri semata wayang mereka.
Suatu siang di luar kaca ruko salon. Hujan turun cukup deras . Pelanggan sedang sepi. Wanda duduk berselonjor di sofa ruang tunggu. Kaki kirinya masih terbalut gips tebal. Bima duduk di seberang meja asyik menggoreskan pensil arang yang baru dibelinya ke atas buku sketsa.
"Kenapa kamu memilih hidup di jalanan, Bim?"
Pertanyaan Wanda memecah suara gemuruh hujan. Gadis itu menopang dagu menatap wajah serius Bima menggambar.
Bima menghentikan gerak tangannya. Ia menatap dalam-dalam mata bulat Wanda.
"Jalanan itu jujur. Orang-orangnya apa adanya tidak pernah memalsukan kenyataan." Bima menjawab sangat tenang. "Tidak harus menjaga nama baik keluarga. Tidak ada kepalsuan. Aku hidup dari apa yang sanggup kukerjakan dengan kedua tanganku sendiri."
Wanda terdiam berusaha mencerna kalimat tersebut.
"Kamu punya bakat sangat besar, Bima. Lukisanmu bagus, terasa sangat hidup. Sayang sekali jika bakat itu hanya berakhir di atas trotoar berdebu selamanya."
Bima tersenyum getir. Ia menunduk mengelap sisa noda arang di ujung jarinya.
"Entahlah Wanda.. bagiku trotoar berdebu itu justru memberiku napas kehidupan."
Bima sengaja merahasiakan identitas aslinya. Ia tidak pernah menyebutkan fakta mengenai ayahnya adalah Seorang pejabat tinggi kejaksaan di Surabaya pemilik kekayaan melimpah ruah, jauh melampaui aset keluarga Wanda saat ini. Tapi di mata Wanda sekeluarga, Bima hanyalah pelukis jalanan bersahaja berjiwa bebas pencari jati diri.
Pembicaraan mereka mengalir jauh semakin dalam. Tak ada yang ditutupi lagi, Wanda mulai menceritakan semuanya termasuk impian terbesarnya.
"Aku menolak bekerja meneruskan perusahaan Ayah," ucap Wanda menatap pantulan dirinya di cermin salon. "Semua orang menganggapku anak manja. Mereka pikir aku bisa hidup enak tinggal meminta uang bulanan."
Bima mendengarkan penuh perhatian. Tangannya sambil kembali mengarsir lambat.
"Aku nekat menyewa ruko kecil ini. Aku merintis salon kecantikan ini, murni dari uang tabunganku semasa kuliah."
"Aku ingin membuktikan kemampuanku sendiri. Berdiri di atas kakiku sendiri. Bebas dari bayang-bayang harta orang tua."
Pernyataan Wanda barusan bagaikan aliran listrik menyengat telinga Bima. Kesamaan visi hidup itu laksana menjalin benang merah tak kasat mata di antara mereka berdua. Mereka berasal dari belahan dunia yang berbeda, namun berujung mencari muara yang sama.
Rasa kagum Bima pada kemandirian Wanda seketika bermetamorfosis. Benih cinta mulai tumbuh mengakar kuat di dasar hatinya.
Tiga tahun berlalu, waktu berjalan sangat cepat. Cinta di antara Bima dan Wanda tumbuh makin kokoh melewati segala badai ujian menuju hubungan lebih serius.
Bima bersikeras menolak seluruh tawaran bantuan finansial dari keluarga Wanda. Ia juga pantang memohon bantuan bayang-bayang kekayaan ayahnya di Surabaya. Harga dirinya terlalu mahal. Ia bertekad membangun rumah tangga murni dari peluh keringatnya sendiri.
Wanda menghargai keputusan Bima. Gadis itu pun rela meninggalkan rumah megah ayahnya demi mendampingi pria pilihannya memulai hidup dari titik terendah.
Pernikahan dilaksanakan sangat sederhana. Jauh dari kata mewah. Tanpa pesta meriah di aula hotel berbintang. Tanpa rentetan karangan bunga pejabat menghiasi jalanan. Acara suci itu hanya berlangsung di Kantor Urusan Agama setempat. Hanya dihadiri keluarga dekat Wanda serta beberapa sahabat musisi pengamen dan sesama pelukis jalanan kawan Bima.
Bima mengucap ijab kabul penuh ketegasan lantang. Jarinya menyematkan sebuah cincin sederhana ke jemari manis Wanda. Cincin itu dibelinya dari hasil jerih payah melukis ratusan wajah di trotoar selama berbulan-bulan. Senyum bahagia terukir indah abadi di bibir mereka berdua hari itu.
Bima memeluk Wanda erat-erat. Air mata syukurnya tumpah membasahi batik pernikahannya.
Pria itu masih belum menyadari rahasia takdir ke depan. Kehadiran dua malaikat kecil kelak menjadi tanda awal mula rentetan badai penghancur retaknya dinding istana kecil mereka.
Bersambung... Bab 3






