⏱ Waktu baca: 4 menit
Awal Misteri di Depan Gerbang
Ceritasakti.com - Matahari perlahan tenggelam menyisakan warna jingga keemasan di ufuk barat.
Dimas tertawa keras sambil memegang perutnya melihat perlengkapan yang dibawa adiknya.
"Kau berani masuk ke sana sendirian? Anak penakut sepertimu pasti akan lari menangis memanggil ibu!" ejek Dimas menunjuk rumah kosong peninggalan kakek buyut mereka.
Lusi ikut menyeringai mengejek adiknya itu dari balik pagar berkarat.
"Ada hantu gadis bergaun putih sedang menangis di lantai dua menunggumu!" tambah Lusi menakut-nakuti, berusaha mematahkan semangat adiknya.
Wildan membetulkan posisi ranselnya menatap tajam kedua kakaknya secara bergantian.
"Aku akan membuktikan rumor konyol kalian berdua itu salah besar," jawab Wildan mantap.
Wildan menyalakan senternya lalu melangkah dengan berani menyusuri jalan berbatu. Ia meninggalkan Dimas dan Lusi yang terdiam kebingungan di luar gerbang.
Suara Tangisan Misterius
Wildan mendorong pintu aula, derit nyaring memecah kesunyian sore itu.
Cahaya senternya langsung membelah kegelapan, nampak ribuan partikel debu menari melayang di udara. Sudut ruangan gelap di penuhi jaring laba-laba kotor, hawa dingin yang berhembus kencang, menyapu bulu kuduk Wildan. Ia memegang erat gagang senternya seolah meyakinkan diri sendiri.
Tiba-tiba ia mendengar suara tangisan melengking dari tangga kayu di lantai dua.
"Siapa di sana? Jangan coba menakut-nakutiku!" teriak Wildan meninggikan suaranya.
Tidak ada jawaban yang membalas teriakannya selain gema suaranya sendiri.
Wildan menelan ludahnya sendiri sembari mengatur napas perlahan. Detektif cilik ini menolak lari ketakutan tanpa membawa bukti nyata. Ia menaiki anak tangga itu perlahan dan menghindari kayu yang rapuh.
Sebuah kain putih melambai tertiup angin, memantulkan bayangan menyeramkan di dinding. Wildan mendekati bayangan kain putih tersebut lalu tertawa pelan sambil memegang perutnya. Ternyata bayangan itu sekadar gorden kusam tersangkut paku di bingkai jendela yang terbuka. Angin meniup jendela, menimbulkan bunyi rintihan engsel berkarat.
Gadis bergaun putih menangis di lantai dua itu ternyata hanya sebuah kain gorden tersangkut paku yang di iringi suara gesekan engsel berkarat.
Kertas Petunjuk Usang
Rasa takut Wildan berubah menjadi rasa penasaran yang sangat luar biasa menggebu-gebu.
"Teka-teki pertama berhasil kupecahkan dengan sangat mudah hari ini," bisik Wildan bangga.
Ia kembali menyusuri lorong dan menemukan sebuah kamar berdaun pintu biru. Wildan memutar kenop pintu itu perlahan, lalu melangkah masuk ke dalam ruangan tersebut. Ruang rahasia itu berisi meja kerja kayu berukir gaya klasik Eropa kuno. Sebuah kotak kayu mungil, terkunci gembok ber-angka, tergeletak diatas meja.
Kertas petunjuk usang menempel menutupi sebagian badan kotak tersebut.
"Hitung jumlah kelopak mawar dalam lukisan di ruangan ini, kemudian kalikan dengan jumlah kursi," baca Wildan lantang.
Ia harus menemukan dua angka petunjuk untuk membuka gembok kombinasi tiga baris itu. Senter Wildan bergerak lihai menyinari seluruh sudut ruangan. Ia melihat lukisan vas bunga kusam yang menempel di dinding.
"Satu, dua, tiga... tujuh kelopak mawar merah muda," gumam Wildan menghitung dengan teliti.
Matanya kembali menatap sekeliling sudut ruangan mencari benda petunjuk kedua.
"Ada tiga buah kursi berserakan di sekitar meja ini." gumam Wildan.
Kotak Rahasia Kakek
Otak cerdas Wildan memproses perkalian sederhana itu dengan sangat cepat. Wildan tersenyum, sangat yakin angka dua puluh satu adalah jawabannya. Ia lalu memegang gembok kuningan itu. Dengan cekatan menyusun kombinasi angka 0, 2, dan 1. Suara bunyi "klik" tanda pengait kotak kayu terbuka membuat wajahnya gembira.
Wildan menahan napasnya sambil membuka penutup kotak tersebut dengan sangat hati-hati. Sebuah lipatan mawar merah dari kertas origami tersimpan rapi di dalam kotak. Sebuah perkamen kecil terselip aman di bawah lipatan mawar origami tersebut.
"Jaga selalu kerukunan persaudaraan kalian selamanya," baca Wildan sambil tersenyum.
Sebuah pesan rahasia tulisan tangan mendiang sang kakek buyut tercinta. Detektif cilik itu merasa sangat puas menuntaskan misi misterinya hari ini.
Tiba-tiba terdengar sebuah jeritan panik yang nyaring membelah kesunyian di lantai bawah.
Harta Karun Persahabatan
"Tolong kami! Ada monster putih menggeram marah di sudut sana!" jerit Dimas ketakutan.
Lusi berteriak histeris memeluk lengan kakaknya dengan sangat erat meminta pertolongan.
Wildan bergegas turun membawa kotak kayu berharga tadi menghampiri kedua kakaknya. Dimas dan Lusi yang sengaja menyusul masuk berniat untuk menakuti adiknya, justru terkena batunya sendiri membuat mereka ketakutan setengah mati.
Dengan cepat Wildan mengarahkan cahaya senternya ke arah sudut gelap yang ditunjuk Dimas.
Seekor anak kucing putih melompat keluar dari tumpukan kardus bekas. Anak kucing kelaparan itu mengeong keras meminta makan sembari menatap mereka bertiga. Tawa Wildan pecah melihat wajah pucat kedua kakaknya yang gemetaran.
"Inilah sosok hantu menggeram menakutkan yang memburu kalian itu!" ucap Wildan sambil mengangkat anak kucing putih tersebut.
Dimas menepuk jidatnya menahan rasa malu luar biasa. Lusi menghela napas panjang menyadari kebodohan mereka berdua yang ketakutan tanpa alasan.
"Maafkan kami yang meremehkan keberanianmu saat masuk ke sini tadi," sesal Lusi tulus menatap adiknya.
Wildan membacakan pesan rahasia kakek buyut yang membuat suasana tegang berubah menjadi hangat.
"Kakek benar, kita harus berhenti bertengkar dan saling menyayangi," sambung Dimas menepuk kedua bahu adiknya pelan.
Dimas dan Lusi berjanji tidak akan merundung maupun mengganggu adiknya lagi. Mereka bertiga tertawa riang bersama menggendong anak kucing itu pulang menuju rumah.
Keberanian memecahkan masalah menggunakan logika selalu lebih baik daripada lari ketakutan. Kejujuran dan persahabatan antar saudara adalah harta karun paling berharga di dunia ini.
Selesai
