
Keributan di Kerajaan Panci
Ceritasakti.com - Kerajaan Panci Hangat berdiri kokoh di atas meja dapur. Permukaannya mengkilap memantulkan cahaya lampu ruangan. Ribuan butir nasi terbaring di dalamnya menanti waktu makan tiba. Bulo adalah sebutir nasi putih paling montok.
Ia membanggakan tubuhnya tanpa henti sejak pagi. Bulo merasa menjadi butir paling bersih sekawasan panci. Ia baru saja melewati air terjun pencucian raksasa tiga kali berturut-turut. Kotoran debu sudah musnah total dari permukaan tubuhnya.
Bulo melompat-lompat kecil memamerkan kelenturan badannya. Teman-teman di sekelilingnya berdecak kagum melihat pesona Bulo. Kulitnya memancarkan kilau mutiara menawan hati.
Di sudut terjauh dinding panci bersuhu panas, Kibu sebutir nasi kering kusam merengut kesal. Tubuh Kibu mulai berubah menguning kecokelatan. Kulitnya terasa sangat kaku akibat kekurangan cairan. Kibu menempel erat pada dinding logam bersuhu tinggi.
Ia tidak sanggup melepaskan diri dari hisapan logam panas tersebut.
"Tutup mulutmu, Bulo! Kau hanya beruntung berada di tengah kumpulan."
Kibu berseru meluapkan amarah memendam hawa marah. Ia merasa dibiarkan menderita sendirian sejak alat masak itu menyala. Bulo tertawa pelan menanggapi kemarahan temannya itu. Ia justru makin menggoyangkan tubuh kenyalnya mengejek Kibu.
"Ibu Raksasa sangat menyayangiku. Ia sengaja menaruhku tepat di pusat kerajaan."
Ucap Bulo membusungkan dada penuh kesombongan. Kibu memalingkan wajah memendam kekesalan memuncak hingga ubun-ubun. Perselisihan kedua butir nasi itu memecah ketenangan seluruh penghuni panci.
Butir-butir nasi lain mulai ikut berteriak membela kubu masing-masing. Suhu ruangan mendadak terasa makin menyengat membakar kulit.
Tetesan Embun Ajaib
Suara dengungan mesin penanak mendadak mati. Langit besi di atas mereka tiba-tiba terbuka lebar berderit nyaring. Cahaya terang menyilaukan menerobos masuk menyapu kegelapan sudut kerumunan.
Hawa sejuk mengalir seketika meredam kepanasan para butiran. Semua penghuni terdiam membisu menatap kemunculan sosok pemilik dapur. Ibu Raksasa menatap ke dalam kerajaannya membawa sebuah benda bulat.
Benda berkulit kuning terang itu memancarkan aroma tajam menyegarkan. Tangannya memeras buah tersebut tepat di atas pusaran tumpukan. Setetes embun asam jatuh menetes perlahan.
Tetesan itu mendarat tepat di atas kepala Bulo. Aroma jeruk lemon segera menyebar menenangkan seisi ruangan sempit tersebut. Bulo merasakan kulitnya makin bersinar putih bersih sempurna.
Tetesan asam itu rupanya merupakan pelindung ajaib penangkal kebasian. Butiran lain ikut menyerap sisa kesegaran embun ajaib tersebut perlahan-lahan. Kini tidak ada sedikit pun bau apek mengganggu pernapasan mereka. Udara panci berubah bersih layaknya suasana pagi hari di pegunungan.
"Rasanya sangat menyegarkan badanku. Tubuhku tidak lemas lagi."
Bisik Bulo memejamkan mata menikmati sensasi dingin tetesan ajaib. Kesombongannya luntur seketika digantikan rasa syukur luar biasa. Ia menyadari keindahan tubuhnya berasal murni dari pemberian Ibu Raksasa.
Ayunan Dayung Raksasa
Ibu Raksasa ternyata belum selesai membagikan keajaiban hari itu. Sebuah dayung kayu raksasa meluncur deras menembus lautan beras putih. Dayung itu bergerak memutar cepat mengaduk seluruh isi kerajaan. Dinding logam panas tergesek memicu suara berderak keras.
Tubuh Kibu terangkat terbang bebas terlepas dari hisapan dinding pemanas. Ia berputar-putar di udara mendarat mulus berdampingan bersama Bulo. Posisi seluruh warga Kerajaan Panci bertukar letak secara merata.
Ayunan dayung raksasa meratakan sisa uap air membasahi sudut-sudut kering. Kibu merasakan air menyerap cepat meresap membasahi kulit kakunya. Tubuhnya berangsur mengembang kenyal menyerap hawa sejuk bagian tengah panci.
Warnanya perlahan memutih bersih menyerupai bentuk sempurna Bulo.
"Aku bisa bernapas lega sekarang. Bebanku sudah hilang sepenuhnya."
Sorak Kibu melonjak penuh kegembiraan melupakan seluruh amarahnya. Bulo tersenyum hangat menyambut penampilan baru temannya. Mereka berdua kini berjejer rapi menunggu kedatangan waktu makan malam.
Perselisihan sengit tadi lenyap tak berbekas tergantikan gelak tawa. Ibu Raksasa kembali menutup rapat langit besi pelindung wadah tersebut. Suara langkah kaki berderap terdengar mendekati area meja makan. Ternyata Dongeng pengantar tidur ini terjadi tepat di ruangan dapur Ibu raksasa tadi.
Lalu, seorang anak kecil duduk manis membawa piring porselen bergambar kelinci. Wajahnya berseri-seri menahan lapar sepulang bermain berlarian seharian penuh. Langit besi kerajaan kembali terbuka melepas uap hangat tebal beraroma wangi.
Dayung kayu besar perlahan mengangkat tubuh Bulo beserta Kibu bersama-sama. Keduanya meluncur mulus tanpa suara mendarat di atas permukaan piring. Uap hangat mengepul tipis membumbung menari-nari melayang di udara.
Aroma segar perasan lemon samar-samar memenuhi seisi ruang makan. Kelopak mata anak laki-laki itu mengerjap pelan merasakan kehangatan menyelimuti wajahnya.
Mulut kecil anak itu melahap habis butir Bulo sekaligus Kibu tanpa sisa. Pengorbanan kedua butiran tersebut menjadi sumber energi kehidupan si anak laki-laki itu.
Kepergian Bulo dan Kibu sama sekali tidak pernah berakhir sia-sia. Keikhlasan mengorbankan diri sendiri demi kelangsungan hidup sesama makhluk ciptaan Tuhan merupakan bentuk bakti tertinggi di alam semesta ini.
Selesai