Minggu, 16 Agustus 2026

Kulepaskan Semua Dengan Ikhlas Bab 3 : Malaikat Kecil di Surga Yang Sempit


Ilustrasi sinematik novel pria bernama Bima memeluk istrinya menatap bayinya yang baru lahir.


BAB 3

Malaikat Kecil di Surga yang Sempit


Usai resmi menikah, Bima memboyong Wanda pindah menyewa rumah kontrakan kecil di kawasan padat penduduk daerah Palmerah. Bangunan rumah-rumah sangat sederhana berdiri berhimpitan. 


Dinding cat biru mudanya mengelupas disana sini, di bagian bawah menampilkan tembok batako. Atap seng menahan panas terik matahari Jakarta tanpa ampun sepanjang siang. Gang menuju rumah tersebut terlalu sempit dilewati mobil. Mereka harus berjalan kaki menenteng barang bawaan melewati kerumunan tetangga yang sedang menjemur pakaian.


Bima berdiri bengong di ambang pintu kayu tak bergagang, cuma gembok kecil satu-satunya cara untuk membukanya. Tas koper bawaannya terasa sangat berat menekan pundak lelahnya. Matanya menyapu perlahan seisi ruangan berukuran empat kali empat meter tersebut. Bau apek lantai semen lembab langsung menyengat rongga hidung. Kipas angin warna pink usang tergantung diam di langit-langit berdebu.


"Maafkan aku, Wanda," bisik Bima lirih memecah kecanggungan. "Kontrakannya sangat sempit. Hawanya juga panas membakar kulit."


Wanda melangkah masuk melewati Bima tanpa ragu sedikit pun. Gadis itu meletakkan tas mewahnya di sudut ruangan berdebu. Ia melepas sepatu hak tingginya begitu saja membiarkannya berserakan. Telapak kakinya berani menginjak langsung plesteran semen kasar dan dingin. Tidak ada raut kekecewaan tersirat di wajahnya saat itu. Tidak ada keluhan keluar dari bibir tipisnya.


"Mas Bim pikir aku mencari istana marmer bertingkat?" balas Wanda tersenyum simpul menggoda.


Dengan cekatan tangannya meraih sapu ijuk di pojok ruangan. Ia mulai membersihkan debu tebal di lantai dengan semangat membara.


Bima melangkah maju menahan pelan lengan istrinya. "Bukan begitu maksudku.. Kamu terbiasa tidur di atas kasur empuk ber-AC. Sedangkan di sini udaranya sangat pengap tak nyaman."


Wanda menyandarkan sapu itu ke dinding. Ia memutar badan menghadap sang suami. Kedua telapak tangan lembutnya terangkat menangkup pipi tirus Bima. Jemari lentik itu mengusap sisa peluh di dahi suaminya penuh sayang. Harum jasmine dari tubuhnya seketika mengusir bau apek ruangan tersebut.


"Istanaku ada di sini, Mas Bim.. Tepat di dalam pelukan hangatmu," ucap Wanda menatap bola mata Bima dalam-dalam seolah mencari keyakinan. "Sudahlah..,sekarang bantu istrimu ini menyapu lantai kotor ini. Kita harus segera menata kasur sebelum malam tiba."


Bima tersenyum mendengarnya. Beban berat yang meremas dadanya menguap lenyap tak bersisa tertiup angin. Penerimaan Wanda sungguh luar biasa tulus tanpa syarat. Gadis itu menelan mentah-mentah segala kekurangan ekonomi suaminya.


Bagi Bima, kontrakan sederhana itu adalah istana sesungguhnya. Kenyamanan batin tiada tara. Ia berhasil meraih kebebasan mutlak dambaannya. Ia sanggup berdiri tegap membahagiakan wanita pilihannya, murni di atas kakinya sendiri. Ia merasakan kehormatan lelakinya terselamatkan sepenuhnya.



Hari-hari berlalu bagaikan di dalam surga, dipenuhi rajutan romansa syahdu memabukkan. Mereka berjuang keras merintis masa depan cerah dari titik paling bawah.


Wanda memusatkan seluruh tenaganya membesarkan salon kecantikan rintisannya. Gadis itu melayani pelanggan memotong rambut hingga sore. Bima terus bekerja keras fokus melukis mencari pundi-pundi rupiah menyambung napas rumah tangga mereka. Jari-jarinya sampai kapalan menggoreskan pensil arang dari siang hingga menjelang malam di lapak trotoar berdebu.


Setiap subuh menjelang pagi, Bima bangun lebih dulu. Ia menyalakan kompor minyak tanah beraroma khas. Ia merebus air menyeduh teh melati hangat ke dalam gelas kaca. Wanda selalu terbangun merentangkan tangan mencium aroma seduhan suaminya tersebut.


"Pagi, Tuan Pelukis kebanggaanku," sapa Wanda memeluk erat punggung suaminya dari belakang.


Bima mematikan api kompor. Ia berbalik mengecup dahi istrinya sangat-sangat lama. "Selamat pagi, Nyonya Bima. Teh melatimu sudah siap menemani pagimu." selorohnya sambil menyodorkan gelas teh layaknya bartender pada tuan pelanggan.


Setiap senja menjelang tutup lapak, Bima selalu tak sabar menantikan waktu pulang ke rumah. Ia melangkah cepat setengah berlari menyusuri gang-gang berliku. Tak jarang tangannya membawa sebungkus terang bulan rasa keju susu kesukaan istrinya. Terkadang ia memetik setangkai bunga liar pinggir jalan sebagai kejutan romantis untuk sang istri.


Wanda selalu rutin menunggunya di ambang pintu tersenyum manis manja menyambutnya. Rambut panjang istrinya diikat asal ke atas menampilkan leher jenjang berpeluh lelah.


"Masak apa malam ini, Sayang?" tanya Bima mengecup mesra kening istrinya, menyalurkan rindu tertahan seharian.


"Sayur kelor kesukaanmu sudah matang. Tempe goreng tepungnya masih mengepul panas di meja," sahut Wanda cekatan mengambil alih ransel kanvas suaminya.


Mereka duduk bersila berhadapan di atas tikar plastik kusam bermotif cendrawasih. Makan sepiring berdua melahap lapar membagi cinta.


"Tempenya sedikit gosong hari ini, Mas Bim," ucap Wanda tersipu malu sambil melihat suaminya mengunyah penuh selera.


"Ini tempe paling lezat seJakarta. Hidangan restoran bintang lima masih kalah enak dengan ini," puji Bima bersungguh-sungguh tanpa tersirat kebohongan.


Wanda tertawa renyah mendengarnya. Tangannya terulur menyeka sudut bibir suaminya yang kotor terkena noda kecap manis. "Dasar pembohong, pandainya merayu."


Kebebasan hakiki akhirnya berhasil menemukan rumah nyamannya.



Malam itu, di atas kasur busa tipis kontrakan mereka, hujan rintik mulai turun mengetuk pelan atap seng. Udara dingin menyelinap masuk merayap lewat celah kusen jendela kayu, meremangkan bulu diseluruh kulit. Bima memeluk Wanda dari belakang kehangatan tubuhnya mengusir hawa dingin.


Wanda menyandarkan kepalanya bersandar nyaman ke dada bidang Bima. Jari lentiknya memutar pelan kancing kemeja kusam suaminya mengikuti irama tetesan rintik hujan.


"Mas Bim..." panggil Wanda sangat pelan nyaris tak terdengar tersapu suara gerimis.


"Ya, Sayang?" sahut Bima masih memejamkan mata, asyik menghirup aroma jasmine dari lekuk leher jenjang istrinya.


"Mulai besok kamu harus melukis jauh lebih banyak lagi. Usahamu harus berlipat ganda dari sebelumnya."


Bima bingung, mengernyitkan dahi membuka matanya. Ia menoleh menatap wajah istrinya penuh tanda tanya besar.


"Kenapa mendadak begitu, sayang? Apa uang sewa rumah kita naik bulan depan?" tanyanya bernada cemas.


Wanda menggeleng, berusaha menahan senyum mekar di bibirnya. Ia meraih telapak tangan kasar Bima. Gadis itu meletakkannya perlahan tepat di atas perut rata berlapis daster kain tipisnya.


"Ada kehidupan baru sedang tumbuh sehat di dalam sini, Mas Bim. Sebentar lagi kamu akan segera menjadi seorang ayah."


Seketika dada Bima bergemuruh dahsyat bagai dihantam godam. Napasnya tercekat tertahan di ujung tenggorokan menghentikan aliran darahnya sejenak.


"Kamu.. sungguhan serius?" suara Bima bergetar menahan gejolak emosi bahagia meluap-luap.


Wanda mengangguk mantap tanpa ragu. Air mata kebahagiaan menetes membasahi pipi merahnya. "Anak pertama kita ini segera hadir melengkapi kebahagiaan kita, Mas Bim."


Detik itu juga Bima menangis tersedu meruntuhkan ketegasan lelakinya selama ini. Ia bangkit duduk bersimpuh menundukkan kepala. Bibirnya mencium perut istrinya berkali-kali tanpa henti penuh bahagia. Tangis syukurnya pecah bersahutan bersama suara gerimis hujan di luar jendela.


"Terima kasih.. tak terhingga, Ya Tuhan," isak Bima memeluk erat pinggang istrinya membenamkan wajahnya. "Aku berjanji akan memberikan seluruh isi dunia untuknya."



Bulan-bulan masa kehamilan menjelma menjadi masa paling mendebarkan sekaligus ditunggu-tunggu. Bima melipat gandakan jam kerjanya tanpa mengeluh lelah sedikit pun. Ia memanjakan Wanda bak seorang ratu istana turun dari kahyangan. Setiap malam menjelang tidur, ia selalu memijat kedua betis istrinya yang membengkak menahan berat badan yang bertambah.


"Masih pegal kakinya, Sayang?" tanya Bima memijat perlahan telapak kaki sampai betis Wanda.


"Sedikit mendingan usai Mas Bim pijat. Anakmu ini aktif sekali menendang perutku sepanjang sore tadi saat melayani pelanggan," dengus Wanda tersenyum bangga mengelus perut buncitnya yang membulat sempurna.


Bima cepat-cepat menempelkan telinga kanannya ke perut istrinya mencoba mendengarkan secara saksama setiap pergerakan itu.


"Jagoan Ayah jangan nakal di dalam sana. Kasihan Ibu kelelahan bekerja seharian mengurus salon mencari uang," bisik Bima mengajak bayinya mengobrol sambil membelai perut istrinya.


Wanda mengusap rambut ikal berantakan suaminya penuh kasih sayang. "Dia pasti tumbuh menjadi anak laki-laki hebat sepertimu kelak, Mas Bim."


Menjelang bulan kesembilan, terlihat Bima sibuk menggergaji kayu bekas dan memaku papan di depan teras kontrakan. Uangnya tak cukup membeli boks mahal di toko perlengkapan bayi. Tangannya merakit sendiri sebuah tempat tidur mungil berlapis pernis mengkilat demi menyambut sang buah hati.


Waktu sembilan bulan berlalu begitu cepat membawa berkah terbesar dari penguasa alam semesta. Malam itu Wanda merintih kesakitan menahan kontraksi hebat, ketubannya pecah. Bima menggendong istrinya berlari menyusuri gang menuju klinik bersalin.


Tangisan bayi melengking keras memecah kesunyian klinik bersalin setempat malam itu. Bima segera mengumandangkan lafaz azan perlahan di telinga merah bayi mungil tersebut. Suaranya bergetar sambil menahan isak tangis tertahan menyumbat tenggorokan. Air mata mengalir membasahi pipi kasarnya tiada henti.


Wanda terbaring lemas menatap suaminya penuh gambaran cinta kasih. Keringat dingin membasahi seluruh wajah cantiknya, terlihat sangat pucat pasi kehabisan tenaga.


"Siapa namanya, Mas Bim?" bisik Wanda parau nyaris tak terdengar.


Bima mendekat mengecup kening istrinya dalam-dalam. "Wira.. Wirabuana, ksatria kecil ini pembawa jalan terang untuk kita."



Wira tumbuh pesat menjadi balita tampan menggemaskan. Kulitnya bersih bersinar terang memantulkan cahaya. Sorot matanya setajam burung elang mewarisi keteguhan mental sang ayah jalanan. Rambutnya ikal tebal persis menyalin genetik Bima sewaktu muda.


Kehadiran Wirabuana kecil menyempurnakan bingkai kebahagiaan keluarga sederhana pinggiran ibu kota tersebut. Tawa putranya setiap hari bergema di dalam rumah kontrakan 4x4 itu.


Malam itu, Bima memeluk erat tubuh istrinya usai Wanda menidurkan Wira di dalam boks bayi kayu buatan Bima sendiri. Mereka memandangi penuh sayang wajah damai putra mungilnya terlelap bernapas teratur.


"Aku berjanji akan selalu menjaga kalian berdua sekuat tenaga. Mempertahankan kebahagiaan ini sampai napasku berhenti," bisik Bima bersumpah sungguh-sungguh di telinga Wanda.


Wanda tersenyum manis membalasnya penuh kedamaian batin. Gadis itu mengeratkan pelukannya membenamkan wajah lelahnya di dada sang suami mencipta ketenangan absolut.


Bima telah dibawa gadis itu terbang menyentuh surga terindah. Ia memejamkan mata memeluk kesempurnaan hidupnya erat-erat dan menolak melepaskannya.


Pria hebat itu bertekad menyongsong masa depan tanpa menyadari rahasia takdir yang akan terjadi.


Kehadiran anak pertamanya sukses melahirkan kehangatan tiada tara dalam keluarga kecilnya, sekaligus pertanda awal kelak menjadi saksi bisu badai penghancur dinding istana cinta mereka.



Bersambung... BAB 4