
⏱ Waktu baca: 4 menit
Tragedi Napas Naga
Ceritasakti.com - Rendi merapikan rambutnya berulang kali menatap cermin toilet sekolah. Hari ini ia berencana meminjam buku catatan matematika milik Lisa. Hatinya berbunga-bunga membayangkan senyum manis gadis pujaannya tersebut.
Adi menghampirinya tiba-tiba menepuk punggung sahabatnya itu dari belakang sangat keras.
"Kau berniat mendekati Lisa membawa napas bau naga begini, Ren?" tanya Adi sambil menutup hidungnya.
Rendi penasaran, lalu menghembuskan napas ke arah telapak tangannya sendiri. Matanya langsung melotot mencium aroma tidak sedap menyengat hidungnya. Kepercayaan dirinya langsung jatuh seketika itu juga.
"Aduh, Tolong aku Adi! Aku bisa malu seumur hidup kalau Lisa pingsan menghirup napasku!" rengek Rendi memohon bantuan.
"Tenang saja, aku punya banyak solusi membasmi halitosis itu, Ren" ucap Adi menepuk dadanya sombong.
Senam Otot Pipi
Adiputra segera menyeret sahabatnya menuju kantin sekolah memesan sesuatu. Ia menyodorkan sebungkus permen karet mint bebas gula ke hadapan Rendi.
"Kunyah tiga butir permen ini cepat! Pilih permen tanpa pemanis agar gigimu terhindar dari sarang kuman," perintah Adi bertingkah layaknya dokter spesialis mulut.
Rendi segera mengunyah permen karet tersebut secara agresif menuruti saran sahabatnya. Mulutnya bergerak cepat naik turun tanpa henti selama sepuluh menit penuh. Ia berharap aroma mint segera mengusir masalah besar di mulutnya.
"Rahangku terasa pegal sekali berlatih senam wajah begini," keluh Rendi memegangi pipinya kesakitan.
"Senam pipi itu salah satu cara agar wajahmu makin tampan di depan Lisa," kekeh Adi mengacungkan jempolnya.
Ramuan Cuka Asam
Aroma mint permen karet ternyata hanya bertahan sebentar saja mengelabui hidung. Adi menarik Rendi lagi menuju ruang ganti olahraga memikirkan rencana lanjutan.
"Tenang Ren..Aku masih punya ramuan rahasia penghancur bakteri bau mulut," bisik Adi tersenyum mencurigakan.
Ia mengeluarkan sebotol cuka apel berukuran kecil dari dalam tas punggungnya. Adi mencampur dua sendok cairan tersebut kedalam segelas air mineral.
"Kumur-kumur pakai ini sekarang! Tapi jangan sampai menelannya bila kau masih menyayangi nyawamu," ancam Adi menyerahkan gelas plastik tersebut.
Rendi memasukkan cairan asam itu ke dalam rongga mulutnya ragu-ragu. Wajahnya langsung berkerut masam menahan rasa kecut aneh luar biasa.
Monster Lumpur Hitam
Usaha mereka berdua belum berhenti sampai di percobaan cuka apel. Adi kembali menyodorkan sebotol bubuk arang aktif bertekstur sangat halus.
"Nih, Gosokkan bubuk hitam ini merata menyikat seluruh permukaan gigimu," instruksi Adi sambil menyeringai lebar.
"Orang zaman dahulu menggunakan tumbukan bata merah, kamu cukup memakai bubuk arang ini saja sebagai penggantinya," tambah Adi meyakinkan sahabatnya.
Rendi pasrah mengikuti semua arahan konyol sahabat karibnya tersebut tanpa membantah. Mulut Rendi kini berubah warna menjadi hitam pekat menyerupai monster lumpur rawa-rawa. Ia segera berkumur memakai larutan air garam epsom membersihkan sisa bubuk arang membandel itu.
"Garam epsom ini berfungsi membunuh sisa kuman sekaligus menghilangkan racun di mulutmu," jelas Adi puas.
Si Apotek Berjalan
"Kau berniat meracuniku perlahan-lahan ya, Di?" keluh Rendi lemas sambil memegang perutnya.
"Ini langkah terakhir paling ekstrem menjamin keberhasilan usahamu kawan," ucap Adi mengeluarkan dua botol kecil.
Adi meneteskan minyak kelapa asli (virgin oil) dicampur minyak kayu putih. Rendi berkumur larutan pedas itu sambil menahan rasa kebas membakar lidahnya. Ia nyaris muntah merasakan sensasi pahit menyengat kerongkongannya. Rendi buru-buru membuang air kumurannya lalu membilas mulutnya memakai air hangat berkali-kali.
Bel istirahat berbunyi nyaring membubarkan kegiatan eksperimen konyol mereka. Rendi melangkah canggung menghampiri Lisa yang sedang duduk di depan meja sudut perpustakaan.
"Kau lagi sakit perut Rendi? Kok tubuhmu bau minyak kayu putih begini?" tanya Lisa tertawa geli.
Rendi tersenyum canggung sambil menahan rasa kebas pedas yang menempel di bibirnya.
"Iya, aku sedang masuk angin berat hari ini," bohong Rendi kikuk mencari alasan.
Lisa mengangguk seolah mengerti lalu meminjamkan buku catatannya diiringi senyum manis. Bau napas naga Rendi sukses menghilang tergantikan wangi semerbak apotek berjalan hari itu.
Adiputra tertawa terbahak-bahak melihat keberhasilan absurd eksperimen mereka dari kejauhan. Persahabatan masa remaja selalu penuh kekonyolan menghibur hati yang terkenang sepanjang masa.
Selesai