📌 Ringkasan Dongeng
- Tokoh Utama: Si Sabar (baik hati, lembut) dan Si Angkuh (sombong, rakus).
- Benda Pusaka: Sebuah lesung batu ajaib pemberian kurcaci gua yang bisa mengabulkan segala permintaan jika diputar ke kanan.
- Inti Cerita: Mengisahkan asal mula mengapa air laut memiliki rasa asin dan dipenuhi oleh ikan-ikan kecil (ikan teri).

Dua Saudara dengan Tabiat Bak Bumi dan Langit
Ceritasakti.com - Pada zaman dahulu kala, hiduplah dua orang kakak beradik di sebuah gubuk yang tak jauh dari tepi pantai dan pinggiran hutan belantara. Meski terlahir dari keluarga yang sama, keduanya memiliki sifat yang saling bertolak belakang. Sang kakak, yang dikenal dengan panggilan Si Angkuh, memiliki tabiat yang sangat sombong, kasar, dan rakus. Sebaliknya, sang adik yang bernama Si Sabar, memiliki hati yang teramat lembut dan penuh kasih.
Hari demi hari, Si Sabar selalu mendapat perlakuan buruk dari kakaknya. Merasa tak sanggup lagi hidup dalam tekanan, Si Sabar akhirnya mengambil keputusan besar. Ia mengajak istri tercintanya pergi meninggalkan sang kakak untuk membangun kehidupan mandiri yang lebih damai.
Setelah berjalan kaki membelah hutan belantara yang lebat selama tujuh hari penuh, tibalah mereka di sebuah padang sabana yang indah. Terpesona oleh kesejukan angin di bawah pohon rindang, Si Sabar berkata, "Istriku, setelah perjalanan panjang ini, kurasa tempat ini sangat cocok untuk kita jadikan rumah."
Keesokan paginya, berbekal kayu dan ilalang, mereka mendirikan sebuah gubuk kecil sederhana. Di tempat baru ini, mereka hidup tenteram dengan membuka ladang. Setiap seminggu sekali, Si Sabar akan berjalan kaki setengah hari menuju desa terdekat untuk menukarkan hasil panennya dengan beras, pakaian, serta sedikit garam—yang pada masa itu merupakan barang mewah dan sangat mahal karena harus ditambang dari dalam perut bumi.
Undangan Pesta Raja dan Pertemuan Sang Kakek Misterius
Suatu hari saat singgah di desa, Si Sabar tak sengaja mendengar kabar bahwa Raja akan menggelar pesta ulang tahun di istananya yang terletak di balik bukit. Seluruh rakyat diharapkan datang dengan pakaian terindah dan membawa hadiah. Sesampainya di rumah, ia menceritakan kabar perayaan itu kepada istrinya.
Mendengar hal tersebut, raut wajah mereka berubah sendu. Alih-alih memiliki pakaian bagus atau hadiah mewah, untuk makan sehari-hari pun mereka sedang kesulitan karena belakangan ini hasil ladang mereka habis diserang hama tikus.
Meski dirundung kesedihan, keesokan harinya Si Sabar tetap pergi ke hutan mencari ranting kering agar istrinya bisa menanak sisa beras di rumah. Di tengah perjalanan pulang, langkahnya terhenti. Ia melihat seorang kakek tua berpakaian compang-camping bak pengemis sedang duduk bertopang dagu pada sebatang tongkat kayu.
"Hai anak muda, mengapa langkahmu gontai dan wajahmu terlihat murung?" sapa kakek itu tiba-tiba.
"Beberapa hari lagi Raja berulang tahun, Kek. Sayangnya, aku dan istriku sangat miskin, tak punya baju layak apalagi hadiah untuk dibawa," jawab Si Sabar dengan jujur.
Sang kakek mengangguk pelan, lalu menyerahkan sebuah guci. "Bawalah guci berisi madu penuh ini. Pergilah menuju kaki gunung dan carilah pohon tertinggi yang buahnya berduri. Di sana terdapat sebuah gua yang lubangnya hanya seukuran manusia. Tukarlah guci madu ini dengan sebuah lesung batu," pesan sang kakek sebelum akhirnya beranjak pergi.
Lesung Batu Ajaib dari Sarang Kurcaci
Si Sabar bergegas menuruti petunjuk tersebut. Begitu menemukan pohon berduri yang dimaksud, ia melihat mulut gua yang nyaris tertutup tumbuhan liar. Dari dalam, terdengar suara riuh rendah canda tawa. Dengan langkah hati-hati, ia memberanikan diri masuk dan mendapati sekumpulan orang kerdil (kurcaci) di dalamnya.
Kehadirannya sontak mengejutkan mereka. "Hei diam! Aku mencium aroma madu yang sangat sedap," seru salah satu kurcaci.
Seorang kurcaci berbadan tambun menatap Si Sabar dan bertanya, "Apakah kamu yang membawa madu di dalam guci itu, Tuan?"
"Iya Betul. Aku ingin menukarkannya dengan lesung batu yang kalian miliki," jawab Si Sabar sopan.
Para kurcaci pun berunding. Tergiur oleh kelezatan madu, pemimpin kurcaci akhirnya berkata, "Baiklah... tinggalkan guci madu itu dan ambillah Lesung Batu Ajaib kesayangan kami ini. Hiduplah dengan bahagia dan jangan pernah kembali lagi, Tuan yang baik hati."
Saat keluar dari hutan, kakek tua tadi kembali muncul dan memberikan wejangan penutup. "Jika kau putar ke arah kanan, lesung itu akan mengeluarkan apa pun yang kau minta. Untuk menghentikannya, putarlah ke arah kiri. Jagalah lesung itu baik-baik," ucap sang kakek lalu menghilang di balik pepohonan.
Keajaiban yang Mengubah Nasib dan Mengundang Dengki
Di rumah, sang istri mulai cemas menunggu suaminya yang tak kunjung pulang hingga hari gelap. Tak lama kemudian, Si Sabar tiba dengan membawa ranting kering di punggung dan sesuatu di tangannya.
Tanpa banyak bicara, ia meletakkan lesung tersebut di atas tikar anyaman dan memutarnya ke kanan. "Keluarlah nasi..keluarlah nasi" ucapnya. Sungguh ajaib! Nasi mengepul keluar dari dalam lesung. Ia mencobanya lagi, "Keluarlah ikan asin yang sedap... keluarlah ikan asin yang sedap," dan seketika makanan lezat memenuhi hadapan mereka. Malam itu, mereka makan dengan penuh suka cita.
Seiring waktu, lesung ajaib itu mengubah nasib Si Sabar. Ia meminta sebuah rumah mewah lengkap dengan kandang kuda dan perabotan indah. Karena hatinya yang dermawan, ia mengundang seluruh penduduk desa, tak terkecuali kakaknya, Si Angkuh, untuk makan besar di rumahnya.
Melihat kekayaan adiknya, hati Si Angkuh terbakar rasa iri. Matanya liar menyelidik setiap sudut rumah. Saat tengah malam ketika seluruh tamu tertidur lelap karena kekenyangan, Si Angkuh yang masih terjaga diam-diam mengintai adiknya. Ia melihat Si Sabar pergi ke samping kandang kuda, mengangkat lesung dari dalam gentong besar, dan berbisik, "Keluarlah oleh-oleh untuk tamu..."
Terkejut bukan main, Si Angkuh segera mengendap-endap kembali ke dalam rumah. "Haha..ternyata lesung ajaib itu yang membuat adikku kaya mendadak! Aku harus memilikinya!" gumamnya licik.
Keserakahan yang Menenggelamkan
Keesokan paginya, setelah oleh-oleh dibagikan dan para tamu pulang, Si Angkuh merengek kepada adiknya. "Adikku yang baik hati, izinkan aku tinggal semalam lagi di rumah mewahmu ini untuk melepas rindu," pintanya. Si Sabar yang tak pernah menaruh curiga pun mengabulkannya.
Tepat saat malam kembali larut dan seisi rumah tertidur, Si Angkuh menyelinap keluar. Ia mencuri lesung batu ajaib tersebut, melompat ke atas kuda milik adiknya, dan memacunya secepat kilat. Ia melarikan diri jauh hingga tiba di sebuah pantai dengan lautan yang membentang luas. Berniat kabur agar tak bisa dilacak sang adik, ia melihat sebuah perahu kayu tertambat. Sambil memeluk lesung batu, didayungnya perahu itu ke tengah lautan sekuat tenaga.
Di tengah samudra yang tak terlihat ujung pangkalnya, perut Si Angkuh mulai lapar. Ia pun memutar lesung batu ke kanan. "Keluarlah roti..keluarlah roti!" perintahnya. Roti pun keluar dan ia melahapnya sampai bosan.
Tak puas, ia meminta makanan kesukaannya. "Keluarlah ikan teri dan garam..keluarlah ikan teri dan garam!" serunya kegirangan.
Seketika, ikan teri dan garam menyembur keluar tanpa henti. Namun, dalam kepuasannya, Si Angkuh tiba-tiba diserang kepanikan yang luar biasa. Ia baru sadar bahwa ia tidak tahu cara untuk menghentikan lesung tersebut!
Garam dan ikan teri terus menggunung, menambah beban perahu kayu yang kecil itu. Akhirnya, perahu tersebut karam dan tenggelam ke dasar samudra, membawa serta Si Angkuh yang serakah, ikan teri, dan Lesung Batu Ajaib yang terus berputar ke kanan mengeluarkan garam.
Dan begitulah asal usulnya, sejak kejadian itu air laut dipercaya berubah rasa menjadi asin seperti garam, dan di dalamnya dipenuhi oleh ikan-ikan teri serta berbagai macam ikan lainnya.
(E/S)
📖 Baca Dongeng & Kisah Fiksi Menarik Lainnya:
Tahukah Anda bahwa keajaiban di masa lampau juga pernah melibatkan percakapan langsung antara manusia dan hewan-hewan unik? Temukan pesona ceritanya serta hikmah yang terkandung dalam Kisah Nabi Sulaiman dan Burung Kiwi!